Akselerasi Cetak
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 30 Januari 2009 04:04

AKSELERASI KHAS ASIH PUTERA (bagian 1: Konsep & Makna)

Oleh  Suhana

(Guru MTs- MA , Biro Akademik & Kurikulum Asih Putera)

 

             Untuk mendapatkan Pendidikan yang bermutu, maka kita akan bertemu dengan salah satu istilah sebut saja ‘akselerasi’ berasal dari bahasa Inggris accelerated artinya yang dipercepat. Dalam dunia sekolah dan madrasah biasa disebut pembelajaran akselerasi (Accelerated Learning). Program AL dalam perspektif kependidikan Islam belum dikenal saat Rasulullah SAW mengemban amanah risalah kerasulannya, namun demikian isyaratnya penulis meyakini telah diperoleh saat beliau menerima salah satu ayat al-quran, misalnya dalam surat Ali Imran 190-191.  Landasan mengapa program AL ini diisyaratkan dalam kedua ayat adalah penulis beragumen, bahwa dengan turunnya ayat 190- 191 surat Ali Imran ini menurut pendekatan tafsir pendidikan (tafsir tarbawiy) sangat kuat mengindikasikan model pembelajaran AL. Misalnya dalam ayat 190 Allah SWT menggambarkan bahwa manusia itu diharuskan untuk senantiasa berfikir meneliti langit dan bumi sehingga terdapat perbedaan siang dan malam. Orang yang dengan cepat tanggap terhadap persoalan di atas, maka diberi gelar sebagai ‘Ulil albab’. Ayat 191-nya lebih merinci lagi sifat dan karakter si ‘Ulil albab’ yakni senantiasa berdzikir (mengasah rasa /qolbu) agar mampu mendekati Allah, baik saat berdiri, duduk ataupun berbaring,

 

            Masih dalam lanjutan ayat ini, bahwa karakter atau ciri ‘Ulil albab’ ini senantiasa  berfikir tentang berbagai hal yang ada di langit dan di bumi ini, artinya kalau secara terus-menerus otak kita diasah pasti akan mendapatkan sesuatu hasil yang selalu berubah. Contohnya dahulu sebelum abad 16 orang percaya pada teori bahwa pusat tatasurya adalah bumi bukan matahari, tetapi setelah abad 17 hingga sekarang orang menggugurkan teori yang diyakini pada abad 16 tsb dan ternyata mataharilah pusat tatasurya (teori Galileo). Maknanya, bahwa karena manusia itu berfikir, maka pasti akan selalu berubah dan semakin kekinian, maka dapat dipastikan akan lebih sempurna bahkan lebih unggul, masalahnya adalah mau percaya atau tidak terhadap penemuan yang terkini itu. Sebagaimana asbab nuzul ayat 190 di atas, kaum Quraisy bertanya pada sahabat Yahudi tentang mujizat Nabi Musa AS, ia (N.Musa AS) diberi mujizat tongkat menjadi ular dan tangannya putih bercahaya, sahabat Nashara berkata mujizat Nabi Isa AS mampu menyembuhkan orang buta sejak lahir, dapat menyembuhkan orang berpenyakit sopak serta menghidupkan orang yang telah mati. Sementara itu para sahabat Quraisy menginginkan Nabi Muhammad SAW juga punya mujizat semacam, tetapi Nabi memberi jawabannya lewat ayat ini yang menekankan bahwa yang lebih utama adalah berfikir terhadap alam yang telah ada (langit dan bumi). Dapat dilihat pula dalam hadits, Rasulullah SAW menyuruh kita agar selalu bertafakur tentang makhluk ciptaan-Nya dan melarang memikirkan tentang siapa Allah SWT (hadits Bukhari).

 

            Demikian pula dengan AL yang menjadi topik pembicaraan kita, semakin lama seseorang belajar dan dapat dipastikan ia punya pengalaman, maka apabila secara terus-menerus ia lakukan secara sadar atau tidak, ia akan mendapatkan suatu kemudahan alias ilham, bagaimana cara mudah belajar atau mengajarkan sesuatu itu. Lebih-lebih kalau secara sadar kita berfikir loncat dan mengujicobakannya, bila ternyata hasilnya lebih baik dari yang sebelumnya, maka inilah yang disebut inovasi(perubahan ke arah yang lebih baik). Bandingkan dengan kita berfikir biasa saja tidak ada keinginan untuk mau berfikir loncat, maka hasilnya mungkin tidak akan membuat sesuatu yang greget atau unik. Jadi pada hemat penulis, keberadaan konsep AL ini sungguh sangat bermanfaat bagi kehidupan semua orang, siapapun yang mau mempraktekannya (tidak ada syarat-syarat khusus, ia tidak harus punya skor IQ …. yang tinggi) pasti akan memperoleh hasil lebih baik dibanding proses yang biasa-biasa saja.

 

            Dengan dilaksanakannya program AL, dapat dipastikan sebuah keberhasilan bukan kegagalan, yakinilah AL ini bagus dan orang yang tidak mau mempraktekannya, ia sepertinya berharap tidak mau maju, karena masih berfikir biasa-biasa saja. Tidak bermaksud melemahkan atau mencela, bagi penulis sebenarnya kita semua bisa melakukan AL ini jika ‘PARADIGMA’ atau cara pandang-nya atau persepsi (pada AL) itu sendiri telah dipahami dengan benar dan seseorang yang belum mau merealisasikan AL pasti ia belum paham dengan konsep ataupun manfaatnya AL ini.

 

            Untuk bisa memahami AL dengan baik dan benar, maka diperlukan keterbukaan cara pandang alias tidak suuzhan terlebih dahulu, insyaallah AL ini mudah dipahami dan mudah dilaksanakan, percayalah ayat-ayat Allah SWT di atas merupakan landasan yang paling ideal bagi seorang muslim sebagai ayat pemotivasi dalam menciptakan karya yang unggul sekaligus bermanfaat bagi rahmatan lilalamin, termasuk salah satunya bagi kemajuan pendidikan di negeri tercinta ini. Yang paling dekat lagi adalah lingkungan kita sendiri dulu sebelum mengajak pada orang lain.

 

           

            Dalam beberapa literatur kita dapat mengamati betapa luasnya pandangan para pakar pendidikan, informasi di atas membedakan pola pembelajaran tradisional dan pembelajaran modern, dapat kita rasakan denyut perbedaannya.  Mengapa dalam pola pembelajaran tradisional cenderung kaku? Kita peroleh dari cara duduk saja seorang siswa harus duduk rapi, tangan dilipat di atas meja pandangan tertuju ke guru, dsb, dsb. Sementara kalau pola pembelajaran modern siswa tidak dibebani dengan hal-hal seperti tadi, duduk enaknya seperti apa, yang pasti duduk tanpa ada tekanan harus begini begitu. Jika siswa belajar dalam suasana tertekan dapat dipastikan ia tidak dapat menyerap hasil pembelajaran secara maksimal, artinya ia mungkin hanya bisa menangkap apa yang diajarkan guru namun kreatifitas untuk mengembangkan apa yang ia dapat mungkin tak ada keberanian, tapi berbeda dengan pola modern karena siswa dapat belajar dengan suasana happy ia akan mampu berkreasi mengembangkan imajinasinya secara bebas, artinya kemampuan berfikir siswa optimal dipergunakan karena luwes tadi.

 

            Dalam pembelajaran tradisional ada kecenderungan  siswa kurang bahagia, ia muram dan serius – takut oleh guru, sedangkan dalam pola modern seorang siswa sangat terbuka untuk selalu menjalani pembelajaran dengan gembira (happy), maka dalam suasana damai seperti inilah akan mendorong pembelajaran berjalan baik, siswa dapat mengasah seluruh potensi yang dimilikinya. Begitu pula dalam memahami sesuatu pola tradisional cenderung hanya mengikuti satu jalan saja, misalnya kalau hitungan hanya diajarkan satu cara, sementara dalam pola kekinian tidak ada pembatasan cara penyelesaian dengan satu jalan, tapi dengan kreativitas akan mampu dicarikan solusi berbagai cara (tidak ada dogma).

 

            Masalah sarana pembelajaran, filosofi tradisional mempunyai pandangan sesuatu barang itu mesti ada, jika tidak ada maka pembelajaran tidak akan berhasil, berbed dengan pola modern, pandangannya adalah bagaimana mengantarkan pembelajaran sampai hingga tujuan, dengan sarana seadanya-pun jika mampu mencapai tujuan bisa tuntas. Jika harus selalu tersedia sarana pembelajaran yang serba lengkap, maka ada suatu kecemasan kreativitas agak susah muncul, cenderung manja. Pola hubungan interaksi dalam sistem tradisional cenderung dikembangkan individualistis. Ini bisa dibuktikan bahwa segala sesuatunya diukur dengan hasil karya sendiri ada sistem rangking. Dalam pola pembelajaran kekinian sangat dikembangkan pembelajaran bekerjasama, kerja kelompok,dst.

 

            Kecenderungan lain pola tradisional adalah pengontrol bukannya mengasuh. Dua konsep yang berbeda ini akan melahirkan hasil anak didik yang berbeda pula. Bila siswa terus diawasi/dikontrol mungkin ia akan selamanya kurang mandiri, sementara itu bila si siswa hanya cukup dengan pola asuh saat ia membutuhkan pertolongan, maka ia akan cepat tumbuh dewasa. Pola tradisional cenderung pula hanya mengembangkan penguasaan bahan ajar/ materi yang akan diajarkan, sementara dalam pola modern pembelajaran beraktivitas dengan mengaktifkan seluruh pancaindra. Hal ini sejalan pula dengan hasil yang diperoleh sressing pembelajaran tradisional hanya mengoptimalkan pada kemampuan hafalan (kognitif), sementara pembelajaran modern mencakup semua ranah kognitif, afektif dan psikomotor (ilmu, iman dan amal). Aspek pengukuran waktu sangat dibatasi bagi siswa dalam pola tradisional, sementara pola modern lebih mengapresiasi siswa tidak membatasi final ketuntasan belajar.  

 

            AL Khas Asih Putera adalah sebuah upaya yang dilakukan dalam rangka mencapai hasil pembelajaran yang optimal berdasarkan potensi yang dimiliki siswa, guru, orang tua, dan Yayasan Asih Putera. Semua komponen diharapkan bersinergi agar program ini berjalan tanpa hambatan yang berarti. Setelah kurang lebih 24 th.Yayasan Asih Putera berdiri, usia TK AP 23 th, usia MI AP 14 th, usia MTs AP 8 th, dan MA AP 5 th, nampaknya dari sisi pengalaman cukup bisa dijadikan sebuah referensi kalau dari sekian puluh dan belas tahun telah dilakukan proses antara trial and error, maka cukup sudah bekal asam-garam dinikmati nampaknya kalau menggulirkan Program AL Khas Asih Putera.Tidak begitu berlebihan dan malahan sudah saatnya bagi lembaga se-level AP senantiasa memberikan kontribusi lebih bagi masyarakat. Artinya inovasi-inovasi yang selama ini digulirkan AP harus menuju anak tangga inovasi yang lebih berarti lagi, terutama dengan hadirnya program AL.

            Pada kebanyakan lembaga termasuk instansi Departemen Pendidikan Nasional, keberanian menggulirkan program AL hanya diperuntukkan bagi para siswa yang memiliki IQ yang sangat tinggi (aspek inteketual jadi prioritas) dan berorientasi pada pencapaian aspek kognitif saja, maka berbeda dengan program AL yang sedang berlangsung di AP, ia adalah produk dari sebuah proses perjalanan pengalaman empiris di lapangan, lalu diramu, sesudah melalui uji kelayakan, maka saatnya disajikan pada masyarakat. Program AL khas AP tidak sama sekali mengukur siswa dari aspek kognitif, namun dasar yang paling kuatnya adalah keberanian seluruh civitas akademika AP menuangkan berbagai gagasannya berkenaan dengan: telaah kurikulum, potensi siswa, potensi orang tua siswa, potensi guru & YAP dalam mengapresiasi proses pembelajaran dengan stressing mengoptimalkan aspek ilmu, iman dan amal (lihat QS.Al-’Ashr 1-3).

            Program AL Khas AP berlangsung bagi semua siswa, untuk TK 1-2 th, Madrasah Ibtidaiyah berlangsung 5 tahun, Madrasah Tsanawiyah 2 tahun & Madrasah Aliyah 2 tahun + 1 tahun program penajaman lifeskill. Ketetapan ini telah digulirkan oleh Sekjen Yayasan Asih Putera melalui SK Nomor: 078/YAP/SK-PPKP/III/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pendidikan (PPKP) di lingkungan Madrasah Asih Putera. Apabila kita bandingkan dengan program AL yang berlangsung pada sekolah dan madrasah lain, sangat jelas berbeda sekali Yayasan Asih Putera berkeinginan mewujudkan proses pembelajaran yang adil, efektif dan efisien. Adil mengandung makna tidak membeda-bedakan antara yang memiliki IQ tinggi dan sedang. Yang pasti AP memiliki kiat dan trik inovatif sehingga AL dapat berjalan secara benar dan tepat sasaran.  

                       

            Pembelajaran yang baik berdasarkan teori Otak Triune adalah otak dipahami sebagai pusat kliring untuk fungsi-fungsi khusus, mengapa demikian ? Sebagaimana kita ketahui bahwa teori ini membagi 3 bagian otak: neokorteks, sistem limbik & reptil. Memanfaatkan fungsi otak reptil (mempertahankan hidup) sebagai otak paling sederhana, kita dapat memanfaatkannya sebagai kepatuhan pada kebiasaan yang baik. Namun demikian tidak hanya cukup dengan mampu bisa hidup dan patuh saja orang belajar harus meraih hasil yang berkualitas dan kuantitasnya banyak, oleh karenanya memerlukan ketenangan bahkan kegembiraan untuk bisa meraih hasil yang maksimal, emosi harus stabil. Inilah yang kita sebut fungsi sistem limbik. Melalui sistem limbik yang berjalan normal kita bisa bekerjasama sehingga hasil pembelajaran akan meningkat pesat. Yang terakhir otak neokorteks disebut juga otak belajar, maka jika kita mampu melatihnya, fungsi neokorteks akan mampu meningkatkan pembelajaran dan prestasi siswa. Karena melalui fungsi neokorteks pembelajaran mampu mengolah (bukannya menyimpan, seperti pada reptil) informasi, belajar berkhayal, menciptakan makna dan nilai. Jika seorang siswa dalam keadaan santai dan terbuka, mereka akan naik tingkat ke area neokorteks (otak belajar), sebaliknya jika siswa merasa negatif dan tertekan, maka ia turun tingkat ke area otak reptil tujuannya bukan belajar tapi bertahan. Belajar jadi lambat bahkan berhenti.

            Otak kiri berfungsi sebagai tempatnya berfikir logis – matematis & berurutan, pertambahan dan lisan. Sedangkan otak kanan tempat berfungsinya kreatifitas/lompatan, emosi, menyeluruh dan visual. Kedua fungsi otak hendaknya mampu dioptimalkan secara simultan, bahkan berbarengan dengan pancaindra seseorang dan qolbu. Mengapa harus melibatkan ke-empat  bagian, adalah jika tubuhmu tidak bergerak, otakmu tidak beranjak, pembelajaran semakin cepat dan mendalam jika seluruh otak terlibat. Bagaimana mengaktifkan seluruh otak, pancaindra dan qolbu ? selanjutnya kita harus mamahami pendekatan belajar SAVI ( Somatis, Auditori, Visual dan Intelektual).

           

           

Referensi:

1. The Holly Quran  (terjemah), Abdullah Yusuf Ali, Pustaka Firdaus, Jakarta,1993

2. Asbabun Nuzul, KH.Qamarudin Shaleh, dkk, CV.Diponegoro, Bandung,1985

3. al-Fikru al-Tarbawiy, Majid Arsan Kailani, Maktabah Dar al-Turats, Madinah al-

    Munawarah, 1647 

4. The Accelerated Learning (terjemah), Dave Merier, Kaifa (Mizan), Bandung,2002

5. Revolusi Cara Belajar I (terjemah), Gordon Dryden & Dr.Jeannette Vos, Kaifa  

    (Mizan), 2000

6. Quantum Quotient, Agus Nggermanto, Nuansa, Bandung, 2002

7. Quantum Learning (terjemah), Bobbi Deporter & Mike Hernacki, Kaifa (Mizan),

    Bandung, 2000

8. Active Learning (terjemah), Melvin L.Silberman, Nusamedia & Nuasa, Bandung,

    2004

9. Mahir Berbahasa Visual (terjemah), Milly R.Sonneman, Kaifa (Mizan), Bandung,

    2002

10. High Tech High Touch (terjemah), Nana Naisbitt & Douglas Philips, Mizan, 2001

11. Visi dan Pondasi Pendidikan dalam Perspektif Islam, Sanusi Uwes,Logos, Jakarta,

      2001

12. The Turning Point (terjemah), Fritjof  Capra, CV.Adipura, Yogyakarta, 2000

13. Silsilatu al-tadrib wa al-thawir (terjemah), M.Jawad Abdul Jawad, Syaamil,

      Bandung, 2002

 

(bersambung pada bagian 2: model akselerasi khas AP, struktur kurikulum, teknik  & panduan pembelajaran serta evaluasi dan hasil).

 

” SEMOGA ANDA SUKSES ”

 

Comments
Add New Search
adella   |2010-07-27 16:06:50
adella apriansyah
29 april 1998
tanggerangno hp85697472058
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 30 Januari 2009 04:43 )