Newsflash

Yayasan Asih Putera membuka pendaftaran siswa baru tahun ajaran 2010/2011. Info lebih lanjut....
Home Artikel Sekolah sebagai Rumah Kedua
Sekolah sebagai Rumah Kedua PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 25 Februari 2010 06:56

 SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA

oleh : Roni Afriana, S. Sp

 

“....menjadikan sekolah sebagai rumah dan menjadikan rumah sebagai sekolah;

sekolah merupakan rumah kedua setelah rumah tempat tinggal dan

keluarga kedua setelah keluarga di rumah”

 Sudah menjadi aksioma bahwa akuntabilitas pendidikan anak yang paling utama adalah orang tua. Orang tua adalah guru pertama bagi anak sebagaimana hadits Rasulullah SAW : “Tidak seorang anak lahir melainkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau menjadikannya nasrani dan atau menjadikannya majusi”. (H.R. Muslim: 4803) 

            Pendidikan anak sangat dipengaruhi oleh 3 pilar pendidikan, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Tiga pilar tersebut diharapkan dapat bekerja secara sinergis dan dinamis dalam hal mendidik anak. Pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada salah satu pihak saja sehingga tidak benar jika saling menyalahkan satu sama lainnya. Orang tua menyalahkan sekolah; sekolah menyalahkan orang tua;  sementara masyarakat apatis dan merasa tidak memiliki urusan.

            Oleh karena itu orang tua seharusnya menjadikan rumah sebagai sekolah dan guru menjadikan sekolah sebagai rumah kedua. Dengan demikian, anak merasa seperti di rumah meski dia berada di sekolah. Sebaliknya, anak merasa seperti di sekolah meski di berada di rumah.

            Penggunaan school based management (manajemen berbasis sekolah) oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka meminimalisasi sentralisme pendidikan mempunyai implikasi yang signifikan bagi otonomi sekolah dan menjadi legitimasi untuk menciptakan sekolah sebagai rumah kedua. 

            Sekolah sebagai rumah kedua dapat diartikan bahwa siswa atau guru merasakan dirinya seakan-akan berada di rumah sendiri sehinggga mereka akan menyatakan bahwa sekolah adalah tempat yang nyaman dan membuat mereka betah. Sekolah merupakan rumah kedua setelah tempat tinggal dan sekolah juga merupakan keluarga kedua setelah keluarga di rumah.

            Upaya mewujudkan sekolah sebagai rumah kedua perlu memperhatikan dua faktor, yakni faktor fisik dan non fisik.

1.      Faktor Fisik

Menjadikan siswa nyaman dan betah di sekolah haruslah dimulai dari fisik sekolah itu sendiri. Pihak sekolah harus berusaha melengkapi dan memodernisasi fasilitas belajar mengajar yang memanfaatkan teknologi canggih seperti kelas bersih dengan perlengkapan multimedia, sarana olah raga yang populer, laboratorium IPA, dan lain-lain.

Dengan dimilikinya fasilitas physical tersebut, siswa diharapkan menjadi nyaman sehingga mampu mengelaborasi potensi yang dimilikinya. Perlu menjadi catatan bahwa pihak sekolah tidak seharusnya menjadi komersial seiring dengan berbagai fasilitas yang dimilikinya. Persepsi masyarakat, semakin mewah gedung dan fasilitasnya maka semakin mahal biayanya harus ditepis dengan memiliki beasiswa bagi siswa yang berprestasi dari kalangan yang tidak mampu.

Pengembangan secara fisik oleh pihak sekolah harus linear dengan prestasi siswa. Akan tetapi, prioritas utamanya adalah untuk menciptakan rasa aman baik secara fisik maupun psikis bagi para siswa, guru, orang tua dan masyarakat. Jika para siswa merasa aman, maka orang tua akan merasa tenang sehingga tujuan sekolah sebagai rumah kedua akan tercapai.  

2.      Faktor Non Fisik

Rumah akan nyaman dan harmonis apabila komunikasi dan perhatian yang baik terjadi antara orang tua dengan anak. Begitupun, guru atau siswa merasa nyaman jika terjalin komunikasi yang baik antara sesama civitas akademik.

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua dalam hal non fisik.

a.    Sumber daya

Sekolah dalam hal ini yayasan atau pimpinan bertanggung jawab dalam proses rekrutmen dan pembinaan kepala sekolah, guru dan staf lainnya secara profesional. Guru yang tidak berkompeten dan mismatchakan berimplikasi kepada siswa yang kurang mempercayai dan kurang menghargai guru tersebut. Dengan demikian, komunikasi yang baik yang diharapkan tidak akan terjalin.

Setidaknya, seorang guru harus memiliki empat kompetensi sebagaimana diamanahkan dalam pasal 28 ayat 3 PP no.19 tahun 2005 tentang standar pendidikan nasional secara tegas dinyatakan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen pembelajaran. Keempat potensi itu adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

b.    Program sekolah

Untuk mendekatkan guru dengan siswa layaknya orang tua dengan anak, maka sekolah setidaknya membuat program-program seperti outbond, rekreasi, mentoring, shalat duha atau shalat berjama’ah dan lain-lain.

Orang tua yang baik adalah mengetahui potensi yang dimiliki anaknya. Begitupun dengan sekolah harus mengetahui, membina dan mengembangkan bakat dan minat siswa. Hal ini, bias terwujud dengan adanya ekstrakurikulerseperti english club, pecinta alam, teater, band, komik, paduan suara, musik, olah raga dan lain-lain.

c.    Komunikasi antara sekolah dengan orang tua

Dalam rangka mewujudkan asas akuntabilitas dan asas transfaransi, pihak sekolah setidaknya harus memiliki program berkenaan dengan orang tua siswa. Diantaranya, mengadakan silaturahim bulanan, home visit, laporan keuangan, dan lain-lain.

Dari uraian di atas, cita-cita menjadikan sekolah sebagai rumah kedua akan terjalin apabila semua komponen pendidikan dalam hal ini orang tua, siswa, guru dan masyarakat memiliki hubungan yang sinergis. Wallahu a’lam

 

Comments
Add New Search
Anonymous   |2010-02-27 21:40:06
Hidup asih putera karena bisa jadi rumah kedua bagi siswa
Rudi Haryanto   |2010-03-08 06:47:36
like this
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 01 Maret 2010 01:53 )