| Impotensi Pendidikan |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | ||||||
| Jumat, 16 Januari 2009 07:12 | ||||||
|
IMPOTENSI PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH Oleh: Seno Muhamad Daud (Biro Quality and Insurence Yayasan Asih Putera) Setiap kali bertemu dengan tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia diajak untuk merenung, melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi dan apa yang telah dilakukan dalam dunia pendidikan. Hal ini perlu dilakukan mengingat arti pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia termasuk bangsa Indonesia. Satu hal yang menarik untuk didiskusikan adalah pendidikan agama, moral, akhlaq dan budi pekerti.
Tak pernah terbahtahkan bahwa Indonesia meskipun bukan negara agama, tetapi dengan tegaas mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu sila dalam Pancasila sebagai dasar negaranya. Selain itu pula, masyarakatnya dikenal religius. Setiap warga negara dijamin kebebasannya dalam memeluk dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Indonesia tercatat sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah jemaah terbesar yang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi setiap tahun datang dari Indonesia. Bahkan melampaui kuota sehingga selalu menyisakan daftar tunggu untuk keberangkatan haji pada tahun berikutnya. Jumlah tempat ibadah dan sekolah bercirikan agama cukup banyak di Indonesia. Pelajaran agama wajib diajarkan kepada seluruh pelajar mulai tingkat pra-sekolah hingga perguruan tinggi. Sebuah studi yang dilakukan The Bertelsmann Fondation menempatkan Indonesia sebagai negara paling religius dari 21 negara yang disurvey. Pertanyaannya adalah apakah ini berarti bahwa orang Indonesia sudah beragama dengan baik?
Mari kita cermati sisi lain. Transparency International tahun ini melaporkan bahwa Indonesia masih setia dikategorikan sebagai negara paling korup, seperti juga tahun sebelumnya. Kriminalitas semakin tinggi dengan modus yang semakin mengerikan. Narkotika dan minuman keras beredar lebih banyak dan mudah didapat. Obat psikotropika diproduksi di Indonesia dalam jumlah yang spektakuler, bahkan terbesar di Asia. Kasus tawuran pelajar dan mahasiswa seringkali terjadi, bahkan adu jotos antaranggota legislatif di gedung dewan yang dihormati. Kasus-kasus pelanggaran norma-susila yang dilakukan orang-orang terpelajar semakin banyak. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang terjadi dengan keberagamaan di Indonesia?
Apabila kita melihat kedua sisi itu, ironis memang. Terjadi kondisi paradoks di antara keduanya. Ada dua hal penting yang bisa menjadi penyebab, pertama adalah terjadinya dikotomi dalam kehidupan masyarakat. Seakan ada sekat maya yang sangat tebal yang memisahkan antara doktrin agama dan pengamalannya, ilmu agama dan ilmu umum, dimensi ritual dan sosial. Sehingga agama menjadi terisolasi dari kehidupan keseharian. Teks agama terputus hubungannya dengan konteks.
Kedua, adanya gejala “impotensi” dalam pendidikan agama di lembaga pendidikan. Abdurrahman Mas’ud (2002) berani menyatakan bahwa dunia pendidikan kita masih terjangkiti penyakit rote-learning education, pembelajaran yang menekankan hafalan semata. Sampai saat ini pendidikan kita belum mampu memecahkan paradoks dalam budaya Indonesia, yakni bahwa budaya kata (al maqal/ verbal) lebih kuat daripada perbuatan (al haal/ action), orientasi ke masa lalu lebih disukai daripada orientasi ke depan, pikiran rasional dikalahkan oleh pendekatan emosional, penemuan empiris dibatalkan oleh ramalan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan etos masih dikalahkan oleh mitos. Sehingga bangsa kita memang beragama, tetapi masih dalam makna mempunyai agama (awalan ber- yang artinya mempunyai seperti pada kata beribu atau bersuami), dan belum sepenuhnya beragama dalam makna menggunakan, memakai dan melaksanakan agama (awalan ber- yang artinya memakai/menggunakan seperti pada kata berkacamata atau bersekolah).
Sedikitnya ada tiga kelemahan pendidikan agama di sekolah-sekolah kita: pertama, pendidikan terlalu menekankan pada ranah kognitif dengan mengesampingkan percapaian ranah lain seperti afektif dan psikomotor. Materi yang diajarkan kebanyakan berupa seperangkat pengetahuan yang dihafal murid.. Tujuan yang bisa dicapai hanyalah to know, dengan indikator keberhasilannya adalah knowing much. Kalaupun sampai kepada how to, maka yang terjadi adalah how to reach the good mark in the test, bagaimana menjawab soal ujian dengan benar. Keberhasilan pendidikan agama seringkali hanya diukur lewat angka-angka nilai ujian.
Kedua, pendidikan agama terlalu menekankan pada aspek ritual dan formal dengan mengesampingkan aspek sosial kemasyarakatan. Hal ini mendorong munculnya sikap-sikap ekslusif, merasa benar sendiri, fanatisme sempit, dan menurunnya kesalehan sosial. Perhatian berlebihan terhadap simbol melenakan substansi atau ruh keagamaan yang sebenarnya.
Ketiga, pendidikan agama terlalu “melangit” sehingga melupakan hal-hal yang bersifat praktis dan membumi. Kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba (abdullah) belum mampu dipadankan secara padu dengan kedudukannya sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ardl), padahal kedudukan manusia di kedua sisi itu ibarat dua sisi mata uang. Dalam Islam hubungan dengan Tuhan (hablun minalloh) dan hubungan dengan sesama manusia (hablun minannaas) keduanya harus senantiasa terjalin dengan harmonis.
Untuk melepaskan diri dari kondisi pendidikan seperti ini, perlu ikhtiar sungguh-sungguh dan komprehensif, di antaranya: 1) Keseriusan dari pemerintah dan semua elemen bangsa untuk segera berpaling dari industrialisasi dan komersialisasi pendidikan yang menyebabkan pendidikan menyimpang jauh dari cita-cita sejatinya, yaitu memanusiakan manusia. Orang tua dalam keluarga menjadi pendidik pertama dan utama. Sekolah menjadi rumah kedua yang memberi kasih sayang, rasa aman, dan keleluasaan dalam belajar untuk mengembangakan minat, bakat dan kemampuan murid secara optimal. Kalangan media cetak dan elektronik hendaknya selalu mempertimbangkan dampak publikasi apapun terhadap kehidupan, pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan. Kalangan industri dan dunia usaha hendaknya bersungguh-sungguh melaksanakan program CSR (Coorporate Social Responsibility), dan masyarakat luas berkontribusi memberikan atmosfir positif sehingga nilai-nilai pendidikan dan kearifan teraktualisasi dengan baik dalam kehidupan masyarakat.. 2) Membersihkan pendidikan dari kepentingan politik sesaat. Reformasi pendidikan harus menyentuh arasy-nya. Bukan semata kosmetik, lip-service, dan iming-iming yang ampuh untuk menarik dukungan politis menjelang pemilu. 3) Membenahi praktik pendidikan agama, moral, karakter, dan budi pekerti di semua jenjang pendidikan.
Poin tiga inilah yang seharusnya menjadi ujung tombak pemecahan masalah. Guru sebagai pemeran penting dalam pembelajaran, hendaknya menguasai dengan mumpuni kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut ditampilkan oleh guru dalam pembelajaran dengan penuh cinta dan kasih sayang terhadap muridnya tanpa memandang perbedaan.
Penyampaian nilai-nilai moral dan karakter bukan monopoli guru mata pelajaran agama, melainkan juga seluruh guru harus turut berperan. Pengamalan nilai-nilai agama harus dicontohkan dalam setiap perilaku guru, di kelas maupun di luar kelas. Nilai agama menjadi ruh dalam setiap pembelajaran yang akan ter-refleksikan dalam kehidupan keseharian pebelajar.
Dalam pendekatan humanisme religius ditawarkan tiga tahapan pembelajaran yang dapat membantu guru lebih dapat memahami, mendekati dan mengembangkan pebelajar sebagai individu yang mengemban misi khalifah serta rahmat li al ‘alamin sekaligus hamba Allah yang didesain ahsani takwiim (sebaik-baik ciptaan). Ketiga tahap tersebut adalah, liberating yang berarti guru membebaskan pebelajar dari belenggu yang berhubungan dengan kultur, irasionalitas tradisi dan ideologi, juga historical burden. Tahapan ini dilanjutkan dengan proses educating, yang berarti penanaman pesan-pesan nilai agama ke dalam benak pebelajar aktif. Pada tahap ini guru lebih sebagai fasilitator, motivator, sekaligus role model. Proses terakhir adalah civilizing, di mana guru memposisikan pebelajar pada fitrahnya sebagai khalitullah fil ardl, sementara guru pun membuka diri sebagai pemandu dan teman curhat bagi pebelajar.
Materi yang disajikan dalam pendidikan agama harus berubah dari knowledge oriented menjadi value oriented, sehingga guru tidak menjadi pengabar buku teks, tetapi menjadi pendidik sesungguhnya. Bahan pelajaran dibuat lebih sederhana sedangkan aspek nilai-moral menjadi titik tekannya. Reinforcement positif berupa penghargaan/reward harus jauh lebih menonjol dibandingkan dengan hukuman/ funishment.
Pembenahan pada isi dan cara penyampaiannya perlu diikuti dengan pembenahan evaluasi. Selama ini jenis evaluasi terlalu didominasi oleh paper-pen test, sehingga mulai dari formative, sumative, bahkan ujian akhir diukur dengan tes yang mengukur sejauhmana pebelajar mampu mengingat dan mengetahui bahan ajar yang telah disampaikan guru. Dengan demikian arasy pendidikan agama sama sekali tidak tersentuh. Kondisi ini harus diluruskan dengan menerapkan authentic assessment untuk mengukur keberhasilan. Penilaian terhadap proses menjadi sama penting dengan penilaian hasil, means sama pentingnya dengan end. Portofolio, anecdotal records, wawancara, pengamatan, tugas/ resitasi dan proyek/presentasi, menjadi pilihan agar evaluasi perkembangan belajar terekam dengan lengkap, akurat dan komprehensif.
Praktik evaluasi yang selama ini dilakukan, yaitu hanya pebelajar yang dievaluasi, harus mulai ditinggalkan. Pebelajar sebagai individu memiliki otoritas individu yaitu mengambil keputusan atas dasar tanggung jawab. Implikasinya adalah pebelajar diberi kesempatan untuk menilai dirinya sendiri secara objektif (self-assessment) bahkan menilai proses, fasilitas, dan gurunya. Hasil evaluasi murid akan menjadi balikan berharga bagi guru, sekolah, dan pembelajaran agama khususnya. Dengan demikian maka mutu pembelajaran agama di sekolah meningkat, sehingga pendidikan agama berfungsi sebagaimana mestinya, tidak lagi menderita impotensi.
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |
||||||
| Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 30 Januari 2009 04:41 ) |











Assalamu'alaikm.. sebelumny sya minta...
Assalamu'alaikum...salam kenal. Penge...
adella apriansyah 29 april 1998 tang...