5 PILAR PENDIDIK GENERASI AQIL BALIGH | RESUME TABLIGH AKBAR

May 12, 2020

Tak ada alasan untuk berhenti menuntut ilmu, bahkan dalam situasi pandemi seperti sekarang ini. Ketika semua aktivitas terpaksa dirumahkan untuk memutus penyebaran Covid-19, sepertinya tertutuplah semua peluang langkah kaki menuju majelis ilmu. Namun dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada, Yayasan Asih Putera mencoba menghadirkan sebuah Tabligh Akbar Online, sehingga majelis ilmu tetap bisa kita ikuti walau tetap di rumah saja.

Tabligh Akbar online yang digelar Hari Senin tanggal 11 Mei 2020 kemarin, menghadirkan narasumber seorang psikolog, yang juga praktisi di bidang pendidikan dan senior konsultan SDM di beberapa lembaga. Drs. Adriano Rusfi, Psi atau lebih akrab disapa Ustadz Aad berkenan selama kurang lebih dua setengah jam secara interaktif berbagi ilmu dengan guru-guru dan orangtua murid dari seluruh madrasah Asih Putera.

Ketua Yayasan Asih Putera, Bapak Ir. H. Edi Sudrajat Ahmad dalam kata sambutannya mengatakan bahwa secara prinsip pendidikan Aqil Baligh di madrasah Asih Putera sudah diterapkan melalui kegiatan Taklif. Kegiatan Taklif secara terintegrasi mendewasakan anak pada waktu yang seharusnya, melalui learning by doing. Pendidikan Aqil Baligh menjadi penguat bagi guru dan orangtua terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini di Asih Putera.

Mengawali presentasinya, Ustadz Aad menyampaikan sebuah renungan yang sangat menyentuh sekaligus menyentil kita. Dengan adanya pandemi Covid-19  yang membuat semua aktivitas dihentikan dan dirumahkan, memberi hikmah tersendiri dimana Allah sepertinya ‘memaksa’ kita untuk kembali ke rumah, berkumpul lebih lama dengan anak-anak dan keluarga, melakukan kegiatan bersama-sama di rumah, yang telah terenggut selama ini oleh kesibukan kita bekerja di luar rumah dengan dalih mencari nafkah.

Menjadi sebuah ironi jadinya, ketika kita bekerja di luar mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan keluarga, tapi ternyata kesibukan kita mencari nafkah telah membuat anak-anak dan keluarga menjadi korban. Ada fungsi-fungsi sosial yang terabaikan, waktu efektif untuk kemanusiaan terenggut termasuk pendidikan untuk anak-anak kita sendiri.

Sejak Revolusi Industri pada abad-18 yang menuntut manusia berlomba bekerja untuk mendapatkan materi, telah menyebabkan ketiadaan waktu untuk mendidik anak dan diserahkan perannya kepada sekolah. Padahal sekolah harusnya hanya sebagai pengisi waktu. Sekarang sekolah seperti usaha  laundri, anak diantar pagi dan dijemput sore.  Bukanlah menjadi domain sekolah mengajarkan karakter pada anak, tapi itu adalah domain orangtua di rumah. Akibatnya anak-anak menjadi terlambat mengenal beban syariah, tidak paham cara mengambil keputusan, tidak terbiasa bekerja secara team work dan atau gagal mengambil alih tugas-tugas manusia dewasa.

Yang terjadi sekarang sebagai efek revolusi industri, kita memiliki banyak uang sehingga mampu menyekolah anak-anak di manapun, bisa memanjakan anak-anak kita dengan membelikan banyak mainan dan makanan untuk menebus rasa bersalah kita, sehingga anak over nutrisi. Mereka menjadi sangat cepat tumbuh dewasa secara fisik (baligh) namun terlambat secara aqilnya. Ibaratnya Aqil adalah softwarenya, sedangkan baligh adalah hardwarenya.

Ada 5 pilar pendidikan aqil baligh yang harus dipahami oleh kita semua, agar anak-anak kita dapat tumbuh seiring antara perkembangan fisik dan mentalnya. Kelima pilar tersebut adalah :

1. Rumah

Rumah, dalam hal ini orangtua memiliki peran dalam pendidikan mental dan karakter anak sebesar 70%, jauh lebih besar dibanding peran sekolah. Karena pendidikan mental dan karakter itu bukan dengan cara diajarkan namun ditularkan melalui kebiasaan-kebiasaan di rumah. Dengan work from home dan diam di rumah saja, ini adalah kesempatan bagi orangtua untuk melaksanakan perannya tersebut. Jangan memindahkan sekolah ke rumah dan mengambil peran sebagai  guru pengganti di rumah, karena orangtua tidak memiliki keilmuan khusus secara didaktik, pedagogik, micro teaching ataupun pemahaman terhadap kurikulum formal.

Orangtua di rumah bisa menjadi pendidik anak-anak dengan 3 kekuatan besar, yaitu :

a. Cinta

Kalaupun orangtua dalam mendidik anak terlihat tidak sabar atau galak, anak-anak tidak akan merasa sakit hati karena ada cinta yang mendasarinya.

b.  Ketulusan

Daya tular tertinggi dalam pendidikan anak adalah ketulusan Ayah dan Bunda. Semakin tulus, akan semakin tertular dengan baik secara ruhiyah.

c.   Keteladanan

Kita bukan mengajarkan anak doa sebelum dan sesudah makan, tapi biasakanlah sebelum dan sesudah makan membaca doanya, lakukan secara konsisten maka anak akan meniru dan melakukannya dengan kesadarannya.

Ayah adalah seorang komandan, Ayah adalah seorang dirigen, Ayah adalah seorang nahkoda! Ayah sebagai kepala keluarga memiliki peran yang lebih dominan dari seorang Ibu dalam hal menentukan haluan, menentukan kurikulum dan juga sebagai tempat konsultasi bagi istri saat menghadapi permasalahan dalam mendidik anak-anak. Ibaratnya, seorang Ibu adalah pelaksana harian dari program-program yang sudah dirancang dan direncanakan matang oleh Sang Ayah sebagai komandan.

Kondisi pandemi memaksa semua anak diam di rumah, meninggalkan aktivitas fisiknya secara drastis. Sehingga terjadilah over nutrisi, karena anak –anak banyak makan tapi kurang bergerak. Hal ini memicu perkembangan baligh (fisik) anak secara cepat bahkan berlebihan. Orangtua harus mampu mengendalikan kelebihan nustrisi yang berdampak anak menjadi lebih gemuk dan lamban, dengan cara pembatasan nutrisi dan mengajak anak berolahraga dengan mengeksplorasi permainan-permainan tradisional yang menyenangkan, untuk mengurangi energi yang berlebih.

Jangan lebay dengan penggunaan gadget. Sepertinya Allah sedang menerapi kelebayan kita terhadap gadget, dibuatnya kita seharian bermain gadget selama di rumah saja, sehingga kita akan sampai ke titik jenuh yang sebenar-benarnya jenuh bermain gadget untuk masa yang akan datang. Pada prinsipnya, orangtua harus mampu menekan baligh karena over nutrisi, kedewasaan fisik ditekan sementara kekuatan fisik ditingkatkan. Imunitas tubuh lebih baik dari sterilisasi!

2. Sekolah

Secara umum sekolah  hanya memiliki peran sebesar 30% dalam pendidikan anak. Namun sekolah bisa menjadi asisten orangtua dalam membangun Aqil anak. Sekolah mengajarkan ilmunya, di rumah dilakukan pembiasaannya. Wilayah knowledge (pengetahuan) ada di sekolah. Orangtua mengajar dan membiasakan ngaji Al Qur’an, tapi untuk pengetahuan tajwid, makhrojul huruf ada di wilayah sekolah.  Sekolah bisa mengajakan keterampilan-keterampilan khusus yang tidak bisa dilakukan orangtua karena banyak keterbatasan, misalnya mengajarkan berenang, memanah atau berkuda.

Peran sekolah adalah ibarat kawah Candradimuka, untuk mendidik anak-anak sebagai calon  manusia dewasa, mukallaf, dan manusia aqil baligh. Serahkan anak pada sekolah dengan segala kerendahan hati. Penuhi kewajiban keuangan untuk SPP dan berikan kepercayaan penuh pada sekolah untuk tegas menegakkan disiplin, bahkan jika terpaksa anak harus dihukum demi tegaknya sikap disiplin.

Menurut Ali bin Abi Thalib, ada 3 pola pendekatan dan perlakukan kita terhadap anak di dalam mendidik mereka berdasarkan usianya, yaitu :

a.   Usia 0 – 7 tahun  

Perlakukan mereka seperti raja, penuhi segala kebutuhan dan keinginannya.

b. Usia 7 – 12 tahun                

Perlakukan mereka seperti budak atau tawanan, didik mereka untuk menjadi calon manusia dewasa yang mandiri, terlatih dan sadar dengan perannya. Anak di usia ini sudah harus dididik semi militer agak kuat secara fisik, terutama untuk anak laki-laki.

c.   Usia di atas 12 tahun

Perlakukan mereka sebagai seorang teman, sadari kemampuan mereka untuk diajak bicara atau berdiskusi.  

3. Mesjid

Untuk seorang anak laki-laki, rumah adalah tempat yang buruk untuk pembentukan kedewasaannya. Sebaiknya sejak dini anak terutama laki-laki harus sudah diperkenalkan dengan mesjid dan diajak melakukan banyak aktivitas di mesjid. Mesjid bukan sekedar tempat solat, tetapi anak-anak yang dibesarkan di mesjid akan ditangguhkan karakternya untuk mencari kehidupan. Mesjid adalah tempat mendidik anak laki-laki menjadi seorang dewasa.

Karenanya, di mesjid perlu seorang mentor bukan sekedar marbot yang bertugas membersihkan mesjid. Tapi seseorang yang mampu mendidik anak-anak pada kedewasaan, untuk berlatih keterampilan pidato, latihan fisik dan juga  memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan mesjid atau tugas-tugas lain yang biasa dilakukan seorang marbot.

Seharuskan kita bisa menghidupkan kembali fungsi mesjid sebagai fungsi central Islam dalam pendidikan aqil baligh pada anak.

4.   Dunia Industri atau Korporasi/Perusahaan

Sejak terjadinya Revolusi Industri, tidak lagi ada waktu efektif di rumah untuk anak-anak dan keluarga karena kelelahan bekerja. Industri menjadi biang keladi hancurnya tatanan keluarga. Fokus pada pekerjaan menyebabkan kurangnya waktu orangtua untuk mendidik anak, menjadi sebab munculnya remaja yang bermasalah. Hal ini tentu saja akan berefek pada pada konsentrasi kerja yang buntutnya akan merugikan perusahaan, karena karyawannya tidak optimal dalam bekerja. Karena efektivitas dan produktivitas karyawan sangat bergantung pada kondisi kejiwaan mereka, perlakukan mereka dari sisi kemanusiaannya, beri waktu untuk mereka bagi keluarga dan melakukan peran pendidikan bagi anak-anaknya.

Karenanya, sudah saatnya korporasi/perusahaan dibangun kesadarannya sebagai pilar ke-4 pendidikan aqil baligh, agar ikut bertanggungjawab terhadap masa depan anak-anak. Perusahaan tidak hanya berpikir tentang CSR (Corporate Social Resonsibility), tetapi juga harus memikirkan CFR (Corporate Family Responsibility) yaitu ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak karyawannya. 

 Kontribusi korporasi dalam pendidikan aqil baligh antara lain adalah :

a.   Sediakan sesi-sesi parenting pada jam-jam kerja, sebagai bagian dari job description yang harus diikuti oleh seluruh karyawan.

b.  Sebagian pekerjaan dilakukan di rumah (WFH) yang bisa melibatkan anak-anak, bukan hanya pada masa pandemi seperti sekarang. Anak-anak akan melihat orangtuanya bekerja sebagai sarana pelatihan. Acara Family Gathering bukan hanya sekedar piknik, tapi bisa sesekali membawa anak-anak ke kantor.

c.   Kurangi waktu kerja dari 8 jam menjadi 6 jam perhari, sisa 2 jam biarkan bekerja di rumah (WFH), agar karyawan memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.

d.  Tabungan Karir, buat sebuah sistem pada perusahaan untuk memberikan semacam poin yang dikumpulkan dari awal bekerja, dan saat karyawan berusia 40 tahun poin tersebut bisa digunakan untuk mengejar karir. Mendidik anak-anak adalah poin terbesar yang akan didapat karyawan. Di dalam Islam, puncak keseimbangan manusia ada di usia 40 tahun, sebagaimana para nabi banyak yang diangkat menjadi nabi di usia 40 tahun.

5.   Negara

Negara memiliki peran penting dalam menciptakan perangkat-perangkat sosial, hukum dan aturan untuk mendidik generasi aqil baligh, karena negara memiliki kekuasaan untuk membuat hukum dan undang-undang.

Harus ditinjau ulang tentang makna undang-undang perlindungan anak yang ada sekarang, UU yang ada sekarang terlalu protektif pada anak, sehingga anak seperti dimasukkan ke dalam sebuah aquarium kaca, terlalu dimanjakan, tidak mandiri dan lemah dalam banyak hal. Harusnya perlindungan yang diberikan berbentuk back up, motivasi dan support.

Harus dipahami, bahwa hak anak tidak selalu identik dengan mendapatkan makanan, pakaian, kasih sayang dan pendidikan, tetapi juga hak untuk menjadi manusia dewasa yang mandiri, tangguh, berdaya juang, pantang menyerah dan percaya diri.

Pada UU Pendidikan dan Pengajaran tahun 1950 tertulis bahwa Putra-putri usia 15 tahun harus dididik untuk mampu menjalankan tugas-tugas manusia dewasa. Maka kemudia di masa itu, setelah lulus SD anak-anak diberikan sekolah yang bersifat kejuruan dan keterampilan seperti SKKP (Sekolah Kecakapan Keluarga Pertama/SMP) dan SKKA (Sekolah Kecakapan Keluarga Atas/SMA juga STM (Sekolah Teknik Menengah).

Kewajiban negara adalah membuat kerangka kurikulum, dan setiap satuan pendidikan bertugas untuk membuat dan mengembangkan kurikulumnya sendiri berdasarkan situasi dan kondisi sekolahnya (KTSP = Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Stop kriminalisasi guru karena dianggap melakukan kekerasan pada murid, jika itu adalah bagian dari proses mendidik. Orangtua harus memberi kepercayaan penuh pada guru untuk mendidik putra-putrinya, berikan dukungan dan tunaikan kewajiban dengan baik untuk memenuhi hak-hak guru.

Pendidikan Aqil pada anak adalah tanggung jawab utama seorang Ayah. Tokoh pendidik utama yang disebutkan di dalam Alqur’an adalah seorang Ayah. Karena peran Ayah adalah sebagai nahkoda, kompas, haluan dan penentu arah. Ayah yang menjadi arranger untuk menciptakan sebuah lagu yang indah sementara yang mengajarkan tangga nadanya. Ayah sebagai pujangga membuat sebuah kalimat, alinea, paragraf atau puisi, Ibu yang mengajarkan hurup demi hurufnya.

Akhlak diajarkan oleh Ibu dengan cara khas seorang Ibu yang cerewet tapi juga persuasif. Sedangkan

Akidah diajarkan Ayah kepada anak-anak dengan cara indoktrinatif, frontal, sekaligus Ayah sebagai konsultan bagi Ibu jika ada masalah dalam penanaman akhlak pada anak-anak. Tegakkan wibawa sebagai seorang pendidik, karena anak hanya akan patuh pada orang yang mendidiknya. Ayah adalah penanggungjawab pelaksanaan pendidikan, sedangkan Ibu sebagai pelaksana hariannya. Karena di akhirat, yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang anak-anaknya adalah seorang Ayah! * (ERG)

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.