Yayasan Asih Putera
Image

Menjadi Guru, Seperti Guruku Dulu

Oleh: Ceuceu Gumilang

Aku ingat, sewaktu kecil dan ditanya apa cita-citamu, jawabanku adalah menjadi guru. Teman-temanku juga banyak yang menjawab ingin menjadi guru. Dulu, menjadi guru rasanya keren sekali, menguasai banyak ilmu dan sangat berwibawa saat mengajar kami. Kami tak pernah berani menatap wajah guru saat berbicara, karena rasa hormat pada mereka. Kami juga tak pernah membantah, karena kami tahu membantah guru sama saja membantah orangtua, dosa hukumnya.

Lalu, ketika sekarang aku benar-benar menjadi seorang guru, apakah wibawa dan kharismaku bisa seperti guruku dulu? Yang masih kuingat hingga kini wajah teduhnya dan sering kudoakan di setiap usai salatku. Aku tidak tahu, hanya berharap semoga aku bisa menjadi guru yang baik untuk murid-muridku.

Setiap kali mempersiapkan diri untuk mengajar, pikiranku melayang ke ingatan masa lalu. Masa di mana saat itu aku adalah seorang murid, yang masih bersandal japit belum bersepatu. Yang menenteng termos, vas bunga dan taplak meja, untuk menghias meja guru ketika giliran piket. Jadwal piket adalah saat yang paling kutunggu, aku dan grup piketku sudah tiba satu jam sebelum bel masuk. Menyapu lantai, mengelap debu, membersihkan papan tulis dan juga mengecek kolong-kolong bangku dari sisa sampah yang disembunyikan di sana.

Kami menunggu dengan tegang, komentar dari guru tentang kebersihan kelas hasil kerja kami. Dan alangkah bangganya kami, ketika guru memberikan pujian kalau kelas ini sangat bersih dan guru memberikan tanda bintang dengan pulpen mangsinya di kolom grup piket kami. Cuma begitu, tapi mengapa kami merasa sangat bangga?

Ternyata kuncinya adalah kejujuran. Guru jujur memuji kami tanpa pamrih. Kami jujur belajar dan bekerja juga tanpa pamrih. Kami hanya bersungguh-sungguh. Dan jikalau mengharapkan tanda bintang dari guru di buku tulis kami atau di kolom kelompok piket kami sebagai pamrih, sungguh sederhana sekali pamrih kami.

Dari guruku di masa lalu, aku belajar menghargai orang lain. Dari guruku dulu, aku belajar kerja sama dan berbagi. Dari guruku di masa aku belum mengenakan sepatu, justru aku memahami arti hormat dan patuh kepada guru.

Guru-guruku di masa lalu sudah tiada, dan itu sudah berlalu hampir setengah abad yang  lalu. Tapi mengapa aku masing bisa mengenang mereka, bahkan bisa mengingat wajah dan nama mereka? Apakah itu sebuah bukti, adanya keberkahan ilmu yang telah diberikan oleh guru-guruku di masa lalu?

Aku ingin menjadi guru, yang dikenang murid-muridku seumur hidup bahkan setelah wafatku. Aku ingin menjadi guru, yang didoakan murid-muridku di setiap akhir salatnya. Aku ingin menjadi guru, seperti guruku dulu.(erg)***

 Sebuah catatan  kenangan kecil pada guru-guruku di masa lalu. Semoga Allah menerima amal ibadahnya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat Hari Guru, Bapak dan Ibu ....  (foto, sumber: insanbumimandiri.org)