Yayasan Asih Putera
Image

Proposal Hidup

Oleh: Edi S. Ahmad

Apa akhir dari proses pendidikan usia SMP/MTs? Saya merumuskannya dalam kalimat sederhana: anak menjadi dirinya sendiri. Jelasnya, anak mampu membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya. Ini modal yang diperlukan agar anak mampu merancang masa depannya dan menyusun proposal hidupnya. Kepada siapakah proposal itu ditujukan? Kepada Tuhannya.

Seperti telah dimaklumi, anak usia SMP/MTs akan atau telah memasuki usia aqil baligh, usia cukup umur untuk menanggung beban atas perbuatannya, tanpa dapat bersandar pada orang lain. Untuk satu hal ini, Islam memiliki istilahnya sendiri: mukallaf. Seseorang yang telah mukallaf, maka semua kewajiban yang dibebankan oleh syariat otomatis menjadi kewajibannya. Begitupun semua larangan syariat harus dijauhi dan dihindarkannya. Seorang laki-laki menjadi mukallaf sesaat setelah ia mimpi basah, sebagaimana seorang wanita menjadi mukallaf setelah mendapatkan menstruasi pertamanya. Itu semua menjadi tanda telah matangnya organ reproduksi mereka.

Pengecualian ada pada anak berkebutuhan khusus, yang karena keterbatasan akalnya ia tidak mampu berpikir. Selama akalnya tidak berfungsi, selama itu pula ia tidak terbebani hukum syariat. Kita mengistilahkan mereka sebagai manusia surga, sosok yang hidup di dunia tetapi sesungguhnya mereka adalah (calon) penduduk surga.

Kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis yang diajarkan di sekolah pada dasarnya sejalan dengan kebutuhan perkembangan anak, khususnya kebutuhan untuk bersiap menjadi mukallaf. Kata kuncinya adalah mengapa anak perlu dan bagaimana anak belajar membuat keputusan yang baik dan benar.

“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab, isyfaq). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (QS. Ath Thuur, 52: 26-27). Ayat ini memberi informasi sekaligus teladan, bahwa kemampuan literasi dan berpikir kritis yang dibangun di tengah keluarga akan berdampak jauh pada setiap anggotanya.

Banyak penelitian membuktikan bahwa problem based learning (pembelajaran berbasis masalah) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak. Untuk memahamkan suatu pengetahuan baru, alih-alih anak disuapi dengan pengetahuan baru itu, bahkan anak disodori satu masalah berkait dengan subjek pengetahuan yang harus dipelajarinya itu. Kejelian orang dewasa di sekitarnya dalam menyodorkan masalah diharapkan dapat membangun minat anak, mengajak anak peduli pada lingkungan sekitarnya, serta melatih literasi dan kemampuan problem solving-nya.

Melalui proses itulah anak belajar tentang norma, hukum, nilai-nilai, karena pada setiap aspek yang dipelajarinya, serta dikritisinya, anak harus memiliki sikap dan pemihakan yang benar atas nilai-nilai itu. Pemikiran dan sikap kritis ini seyogyanya berpijak pada nilai-nilai Islam yang universal. Hal yang hanya mungkin terjadi jika dan hanya jika ia memiliki persentuhan yang intens dengan Alqur’an.

Di akhir perjalanan belajarnya di SMP/MTs, kita berharap anak mampu dan siap untuk menyusun proposal hidupnya, yang ia persembahkan bagi Tuhannya. Mereka saat itu telah berusia 15-16 tahun, telah mukallaf. Tanggung jawab kehidupan telah dipikulnya, sepenuhnya.

Di dalam proposal hidupnya ia harus menjawab pertanyaan: siapa saya? Pertanyaan “Siapa saya?” akan membawanya pada pertanyaan berikutnya: (1) Apa hak-hak Allah SWT pada saya? (2) Apa hak-hak Rasulullah saw pada diri saya? (3) Apa hak-hak orangtua atas diri saya? (4) Apa hak-hak negara pada diri saya? dan (5) Apa hak-hak saudara, teman, tetangga, dan lingkungan sekitar pada diri saya?

Beberapa pertanyaan lain masih harus dijawabnya. Misalkan tentang mengapa saya ada, untuk tujuan apa saya diciptakan, apa prestasi dan kekuatan saya, apa yang menjadi minat dan hobi saya sekarang serta yang akan datang. Berangkat dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah, anak diminta untuk menyusun rencana masa depannya.

Sungguh betapa amat menantangnya tugas orang dewasa yang mendampingi anak-anak usia ini. Menjadi mentor sekaligus guru kehidupan bagi mereka. Kiranya Allah senantiasa membahagiakan mereka, di dunia dan di akhirat, dan mengangkat derajat mereka bersama para sholihin dan muhsinin. Aamiin aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

 

KBB, 29 Agustus 2022

Edi S. Ahmad (Ketua Yayasan Asih Putera)