Yayasan Asih Putera
Image

Tarhib Ramadhan: Sebuah Tradisi yang Melekat di Hati

Oleh: Edwin Wahyudin, M.Pd.

“Ramadhan bulan turun mesin, Ramadhan bulan penuh berkah ....” adalah bunyi syair yang dibawakan oleh Gen Halilintar. Beberapa liriknya mengingatkan tentang esensi ibadah di bulan Ramadahan. Atau, “Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, .... Marhaban Yaa Ramadhan” sebuah lagu yang dibawakan oleh Opick, penyanyi yang khas membawakan lagu-lagu islami. Lirik lagu yang mengingatkan akan betapa mulia dan agungnya Ramadhan.

Alhamdulillah Ramadhan sebentar lagi, hanya menghitung hari dan jari. Mudah-mudahan, semua umat Islam disampaikan kepada bulan yang penuh ampunan, bulan penuh keberkahan, dan bulan penuh rahmat Allah SWT ini dengan penuh rasa syukur, khidmat, dan suka cita. Barang siapa yang hatinya dipenuhi dengan rasa senang, gembira, dan semangat menyambut Ramadhan, dia termasuk umat Rasulullah Saw. dan dijauhkan dari api neraka.

Dalam rangka itu pulalah, Madrasah Asih Putera memiliki sebuah tradisi menyambut bulan suci ini dengan istilah “Tarhib Ramadhan”. Tarhib Ramadhan adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh para siswa dan guru di seluruh Madrasah Asih Putera menjelang bulan Ramadhan, mulai dari tingkat TK, MI, MTs hingga MA. Jadwalnya tidak tetap, sangat bergantung pada kalender pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah. Biasanya 2-5 hari menjelang Ramadhan.

Apa itu tarhib? Kata “tarhib” diambil dari bahasa Arab. Asal katanya adalah “rohhaba – yurohhibu – tarhiiban”, dalam wazan fi’il tsulatsi mazid biharfin, bab awal. Tarhiib (rohhaba) artinya “menyambut (dengan gembira)”, dalam Kamus Kontemporer karya Atabik Ali & Ahmad Zuhdi Muhdhor.

Kegiatan tarhiib ini biasanya diisi dengan beberapa kegiatan: taushiyah, bersih-bersih, pawai, bagi-bagi poster dan jadwal imsakiyah, dan diakhiri makan bersama. Kegiatan bersih-bersih biasanya dilakukan di lingkungan madrasah dan sekitar. Anak-anak dibagi kelompok oleh gurunya, kemudian mereka secara serempak membersihkan area madrasah. Ada yang membersihkan kelas, ada yang mengepel di area koridor dan kantor, ada yang sapu-sapu di halaman, ada juga yang bersih-bersih got di depan dan area selingkung madrasah. Semua itu mereka lakukan dengan senang hati. Dalam hati mereka, yang ada adalah bagaimana menyambut Ramadhan itu dengan suka cita dan bahagia. Semua bersih, semua lapang, dan semua senang.


Bukan hanya bersih-bersih lingkungan, kegiatan tarhiib ini pun kadang diisi dengan pawai keliling “kampung”. Maaf, penulis sebut kampung. Padahal, Cimahi adalah sebuah “kota – kota madya”. Ini hanya menunjukkan bahwa yang dikelilingi bukan Kota Cimahi, tetapi hanya beberapa area saja di Kecamatan Cimahi Utara. Menjelang kegiatan pawai ini atau beberapa hari sebelumnya, anak-anak diberi tugas membuat poster. Tulisan-tulisan besar dalam karton yang berisikan tentang ajakan untuk mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah. Mengingatkan, betapa agungnya Ramadhan, bulan penuh pahala, bulan penuh perniagaan dalam ibadah. Mereka berbanjar berjalan menyusuri jalan Cihanjuang dengan pekikan “takbir” dan kadang diselingi dengan nyanyian semangat menyambut Ramadhan. Selain itu, mereka pun membagi-bagikan selembaran jadwal imsakiyah dan buletin yang berisi pidato Nabiyullah, Muhammad Saw. tentang kabar gembira dengan datangnya bulan puasa untuk umat Islam.


Pada kegiatan pawai yang biasa dilakukan tersebut, rasa lelah tidak nampak dari raut anak-anak. Yang ada adalah sumringah, wajah ceria, dan selalu menebar senyum, sapa, dan salam kepada mereka yang dilewati. Mungkin, sebagian masyarakat merasa terganggu, terutama pada pengguna kendaraan karena jalannya harus berbagi dengan mereka yang berjalan kaki. Kadang, di antara  mereka ada yang bercanda dengan temannya sehingga agak menengah jalannya. Makanya, untuk mengantisipasi hal tersebut, panitia biasanya membuatkan tali atau spanduk panjang/ kain panjang yang sudah diisi dengan berbagai tulisan dan gambar yang menarik oleh anak-anak. Spanduk/kain panjang itu menjadi pembatas jalan mereka. Mereka berjalan dalam satu banjar. Masing-masing membawa satu poster. Ada juga yang bertugas mengingatkan jalan mereka. Yang bertugas tersebut kadang berjalan, kadang berlari mengingatkan mereka yang kelompoknya terputus dari barisan. Di antara mereka ada bapak dan ibu guru yang terus memompa semangat anak-anak. Biasanya ada Bapak Guru yang bertugas sebagai komandan. Dia yang mengatur rute dan ketertiban di jalan. Selain itu, dia pula yang mengarahkan dan membuat koreo teriakan takbir atau yel-yel selama perjalanan.



Selepas pawai atau bersih-bersih, mereka berkumpul di area aula atau lapang. Tentunya setelah mereka berseka atau sekadar bersih-bersih tangan dan kaki. Saat mereka kumpul di aula atau lapang, ibu-ibu guru sudah menyambut mereka dengan berbagai minuman segar dan makanan. Sambutan lembut dan senyum dari para ibu guru membuat anak-anak yang penat dan lelah dengan bersimbah keringat menjadi sirna. Kegembiraan memancar di seluruh civitas madrasah saat itu.

Kata yang paling pantas sebagai penyebab seluruh civitas senang melakukan kegiatan tarhib adalah Ramadhan. Ya, Ramadhan bulan penuh keutamaan. “Sayyidul asyhar” (termasuk) bulan yang sangat mulia dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Mengapa? Karena pada bulan ini adalah terdapatnya sebuah malam yang jika seorang mukmin mendapatkannya, mereka mendapatkan keutamaan seribu bulan. Malam itu adalah malam “lailatul qadar”. Pada bulan ini pula diturunkannya al-Quran sebagai mukzizat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Nabi-Nya yang mulia, nabiyullah Muhammad Saw.  Umat Islam menyebutnya sebagai malam “nuzulul Quran”.

Untuk kegiatan Tarhib Ramadhan kali ini, insyaa Allah akan dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Maret 2022 atau 29 Sya’ban 1443 H. Bertepatan dengan hari terakhir pembelajaran formal di madrasah. Karena, di bulan Ramadhan, semua pembelajaran di madrasah/sekolah biasanya diarahkan pada pembinaan dan penguatan iman, ibadah, dan akhlak yang mulia. Tradisi semua madrasah/ sekolah di Indonesia biasanya menyelenggarakan kegiatan “Pesantren Kilat”.

Tarhib adalah simbol. Bersih-bersih diri, pakaian, dan area adalah cerminan bersihnya hati. Jika hati sudah bersih, maka apapun yang dilakukan akan dilaksanakan dengan penuh ikhlas dan senang. Senyum akan selalu menjadi penghias dan semangat menjadi etos dalam setiap tindakan dan karya. Itulah yang selalu ditanamkan kepada anak-anak. Barang siapa yang membesar-besarkan syi’ar Islam, itu adalah bukti ketakwaan hati (QS. Al-Hajj [22:32]), “Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati”.***