Yayasan Asih Putera
Image

Tegur Sapa

TEGUR SAPA


Di usia saya SD, saya sering diajak Ibu untuk bersilaturahim kepada saudara-saudaranya, kepada adik-adik dari Ayah, atau kepada keponakan-keponakan Ibu. Ibu adalah puteri bungsu dari kakek nenek saya, dan di usia saya saat itu, semua kakak-kakak Ibu sudah wafat.Pelajaran semangat silaturahim Ibu saya dapatkan. Tapi untuk kali ini saya ingin menceritakan hal yang lain.

 Pada satu titik setelah turun dari kendaraan umum, Ibu dan saya harus berjalan, terkadang menyusuri gang, untuk sampai ke rumah yang menjadi tujuan. Sepanjang perjalanan di gang itu, seringkali kami bertemu dengan orang-orang, yang apabila mereka melihat kami lewat, Ibu tidak lupa menyapanya. Tidak hanya kepada yang lebih tua, kepada yang lebih muda pun Ibu tak sungkan menyapanya.

Ungkapan salamnya sederhana. “Punten, ngiring ngalangkung..” Atau ketika disapa duluan, “Bade kamane Neng Haji?” Ibu kemudian membalasnya dengan antusias. Saya suka bertanya-tanya dalam hati, apakah Ibu sebelumnya sudah mengenal mereka, ataukah ini sekedar tata-titi adat kebiasaan urang Sunda? Namun bagaimanapun, kebiasaan Ibu itu terekam dengan kuat di benak kecil saya.

 Hingga tiba masa usia dewasa, saya merasa memiliki “kewajiban” untuk melakukan seperti yang Ibu saya lakukan saat bertemu dengan orang lain. Maka secara spontan, ungkapan-ungkapan sapa salam yang dulu Ibu praktikkan saya ikuti. Tentu saja untuk melakukan hal itu saya harus punya cukup keberanian, serta bersiap menanggung resiko yang boleh jadi tidak terlalu menyenangkan. Akan tetapi secara umum saya menyukai aktivitas ini, karena selain respon positif yang seringkali saya dapatkan, ia juga adalah anjuran Rasulullah shallallohu ‘alayhi wasallam: 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Hendaklah yang kecil memberi salam pada yang lebih tua, hendaklah yang berjalan memberi salam pada yang sedang duduk, hendaklah yang sedikit memberi salam pada yang banyak.” (Muttafaqun ‘alaih). Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Dan orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan.”

Pada situasi yang berbeda, yaitu ketika saya yang ditegur-sapa oleh orang lain yang saya kenal ataupun yang tidak saya kenal, saya merasakan sensasi senang, boleh jadi juga bahagia. Rasanya belum pernah saat saya disapa kemudian mood saya berubah menjadi sedih ataupun bete. Jika dengan disapa kita mendapatkan kebahagiaan, maka tidak mengherankan jika Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kita menjawab sapaan itu dengan sapaan yang sama atau lebih baik.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS An-Nisaa, 4: 86)

Dalam perspektif Islam menyapa atau mengucapkan salam adalah identik dengan memberikan penghormatan. Persoalan akan timbul manakala ada keengganan untuk memberikan penghormatan itu. Maka sudah pasti proses tegur sapa itu pun tidak akan terjadi.

Saya merasa tidak mengalami situasi pelik ketika memulai kebiasaan tegur sapa ini, boleh jadi  karena saya melihat role model dalam praktiknya, yakni dari Ibu saya. Ibu juga telah mengajarkan satu hal yang sama sekali tidak pernah beliau ungkapkan dengan kata-kata. “Milikilah mental pemenang. Jadilah pemenang.”

Beruntunglah para orangtua, para guru dan mentor yang telah menunjukkan keteladanan dalam hal-hal yang dianggap paling sederhana. Anggapan “sederhana” itu akan berubah menjadi berat ketika ia tidak pernah dicontohkan, atau lebih tepatnya, diteladankan.***

 

Akhir Agustus 2021

Muharram 1443H

Ir. H. Edi Sudrajat Ahmad (Ketua Yayasan)