Ujian Bukan Akhir dari Pembelajaran
Pagi itu seperti biasa saya mengantar anak-anak ke sekolah. Di motor Lexi kesayangan kami duduk berempat: saya, Si Bungsu, Si Pangais Bungsu, dan Si Sulung. Tujuan pertama adalah mengantar Si Aa ke MA Asih Putera, kemudian mengantar Si Dede ke TK Asih Putera dan yang terakhir adalah Si Eneng ke MI Asih Putera, yang juga merupakan tempat saya mengabdi sebagai guru di sana.
Memerlukan waktu sekitar 30–40 menit menuju destinasi pertama. Waktu yang cukup lama jika tidak dimanfaatkan untuk bercengkrama. Kebiasaan kami selama di perjalanan diisi dengan permainan tebak-tebakan, bercerita, bercanda dan terkadang juga diskusi kecil-kecilan.
Si Aa membuka diskusi dengan menyampaikan bahwa ujian akan segera tiba. Dan tidak terasa, dia akan ke kelas 12. Lalu satu tahun di kelas 12 itu adalah waktu yang ga akan terasa lama, tiba-tiba ujian akhir lalu lulus. Selesailah sekolahnya.
Menanggapi itu, saya memberikan analogi ujian seperti ketika ayah memasak sayur. Lalu, saya bertanya ke Aa, bagaimana caranya kita menguji masakan tersebut agar sesuai dengan rasa yang kita harapkan?
“Dicicipi dulu, Yah”, begitu jawabnya.
“Ya, betul. Dicicipi,”
“Lalu, setelah diuji, apakah masakannya sudah selesai?”, lanjut saya.
“Ya, tidak, Yah. Kita harus tahu dulu, apakah masakannya kurang asin, kurang manis, dan lainnya.” Dia menimpali.
“Lalu, setelah tahu masakannya sudah diketahui kekurangannya, apakah sudah selesai proses memasaknya?”
“Ya, tidak juga, sih. Perlu diberi garam kalau kurang asin, perlu diberi gula kalau kurang manis.”
Dari obrolan tersebut, kami berdua menyimpulkan, bahwa proses memasak dan proses pembelajaran memiliki kemiripan. Ada tahapan menentukan ingin memasak apa. Dalam pembelajaran, ini serupa dengan capaian pembelajaran. Ada tahapan ingin dimasak seperti apa?
Di dalam pembelajaran kita mengenal dengan metode. Ada tahapan proses memasak, tahapan menguji hasil masakan dan menemukan sudah atau belumnya masakan tersebut memenuhi harapan kita. Jika ternyata ada yang perlu diperbaiki, maka tentu akan ada proses lanjutan, yaitu menambahkan garam, gula, merica dan lain sebagainya.
Jika masakan telah mencapai harapan kita, maka masakan juga belum dianggap selesai. Karena ada tahapan menata di mangkuk yang tepat, memberi topping bawang goreng atau irisan tomat agar menjadi masakan yang spesial.
Pembaca dan teman-teman guru pembelajar, jika melihat cerita di atas, kita perlu memahami kembali, makna sejati dari proses ujian yang selama ini kita lakukan di kegiatan ujian formatif dan sumatif. Ujian yang dimaksud merupakan proses yang pembelajaran yang tidak boleh berhenti di sana. Mesti ada tindak lanjut untuk merespon hasil ujian yang didapatkan.
Ketika masakan didapati kurang asin, maka perlu dibubuhi garam dengan takaran yang tepat. Di dalam pembelajaran, ketika kita mendapati siswa belum memahami bagian tertentu dari capaian pembelajaran, maka diperlukan pemberian pemahaman tambahan. Apakah dengan ujian lagi, tentu tidak. Ini seperti kita mencicipi masakan yang ternyata kurang garam, apakah perlu dicicipi lagi agar mendapatkan rasa yang diharapkan? Tentu tidak, kan? Kita perlu menambahkan garam. Bukan dicicipi lagi.
Selanjutnya, ketika masakan telah mencapai rasa yang kita inginkan, kita akan melangkah ke tahapan selanjutnya, yaitu menuangkannya di wadah yang tepat, memberikan topping dan lainnya. Setelah itu merayakan hasilnya. Dengan senyuman, dengan pelukan mungkin, dengan menikmatinya penuh bangga. Membagi ke sanak saudara mungkin, dan seterusnya.
Di dalam pembelajaran, aktivitas ini disebut sebagai pengayaan. Tahapan yang sangat menyenangkan, harusnya. Tahapan dimana kita bisa memberikan polesan agar hasil pembelajaran lebih spesial.
Dengan memberikan validasi dan arah yang bisa dituju dengan kemampuannya. Bisa memberikan tantangan-tantangan kecil yang seru. Kemudian merayakan bersama akan keberhasilannya. Memberikan penghargaan. Dan berbagi kebahagiaan tersebut dengan menginformasikan (baca: melaporkan) hal tersebut kepada orang tuanya. Baik secara langsung, ataupun dibuatkan catatan anekdot, sebagai bahan laporan ketika nanti di kegiatan pelaporan hasil perkembangan siswa.
Melalui tulisan sederhana ini, saya berharap kita dapat memaknai kembali ujian dalam pembelajaran. Ujian bukanlah akhir dari proses belajar. Ia hanyalah cara kita “mencicipi” proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Seperti seorang koki yang mencicipi masakannya sebelum disajikan, guru pun perlu menggunakan ujian untuk memperbaiki hasil pembelajaran agar capaian pembelajaran benar-benar sesuai dengan apa diharapkan.
Penulis: Handi Komara, S.Pd.I
Koordinator Kurikulum MI Asih Putera