Anak yang Bahagia

Membuat anak bahagia Oct 11, 2020

Pandemi Covid-19 yang menimpa hampir seluruh negara di dunia, belum juga terlihat tanda-tanda kapan akan berakhir, yang terjadi justru korban terinfeksi virus corona yang mematikan terus bertambah, terutama di negara kita Indonesia. Ketakutan dan kekhawatiran begitu mencekam, ditambah dengan kebosanan karena sudah berbulan-bulan seperti menjadi ‘tahanan rumah’. Semua orang tak lagi bisa beraktivitas bebas di luar tanpa rasa was-was, setiap orang akan selalu ‘mempersenjatai’ dirinya dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak?

Anak-anak mungkin tidak mudah untuk memahami, mengapa sekolah harus ditutup, mengapa tidak boleh main di taman, mengapa  kolam renang juga ditutup? Mereka tak bisa lagi leluasa ikut ayah ibunya berbelanja ke supermarket atau berkunjung ke rumah saudara. Semua serba dibatasi! Jargon ‘Tetap di Rumah’atau ‘Stay at Home’ seolah menjadi kalimat yang paling dibenci oleh semua anak saat ini. Tak ada lagi permainan sepak bola dengan teman-teman, tak ada lagi bermain rumah-rumahan dengan teman tetangga bahkan untuk pergi beribadahpun ada larangan dan aturannya sekarang.

Semua itu membuat anak-anak tidak bahagia! Tapi kita perlu tahu secara ilmiah, apa saja yang menyebabkan anak-anak tidak bahagia selama masa pandemi ini? Lalu bagaimana caranya membuat mereka tetap bahagia di masa pandemi ini? Dr. Ihsana Sabriani Borualogo, M.Si, Psikolog yang merupakan Dosen Fakultas Psikologi UNISBA menjelaskan pada acara Webinar series yang diselenggarakan oleh Yayasan Asih Putera, pada Hari Sabtu, tanggal 3 Oktober 2020 yang baru lalu.

Menurut Dr. Ihsana, jika kita sering mendengar pernyataan ‘mencari kebahagiaan,’ maka itu adalah pernyataan yang keliru, karena bahagia itu adanya di dalam diri seseorang, bukan diluar dirinya. Jadi tidak perlu mencari kebahagiaan di luar dirinya, namun ciptakan suasana yang bisa membuat dirinya bahagia.

Ternyata, berdasarkan penelitian, anak-anak yang hidup di negara maju dan memiliki fasilitas hidup yang sangat baik sekelas Korea Selatan, tingkat kebahagiaan anak-anaknya justru lebih rendah dibanding negara-negara yang secara finansial lebih buruk, seperti India misalnya.

Apa penyebab anak-anak Korea Selatan merasa tidak bahagia, padahal mereka hidup sangat terjamin secara finasial serta mendapatkan berbagai fasilitas hidup yang sangat baik. Ternyata, penyebab ketidak bahagiaan mereka adalah karena anak tidak diberi waktu cukup untuk bermain!  Mereka merasa tidak diberi kesempatan untuk memilih (freedom of choice), hidupnya sudah seperti robot karena sistem yang dibuat oleh orangtua dan pemerintah.  Sehingga ide untuk melakukan bunuh diri sangat tinggi di sana, operasi plastik menjadi pilihan untuk mengindari bullying karena merasa berwajah jelek.

Ternyata anak-anak Indonesia, memiliki tingkat kebahagiaan yang sangat rendah juga, setara dengan Korea Selatan. Jika anak Korea Selatan yang sangat berkecukupan merasa tidak bahagia, lalu apa penyebab anak-anak Indonesia tidak bahagia?

Selama masa pandemi ini, tingkat kebahagiaan anak-anak Indonesia berkurang drastis sedangkan tingkat kesedihannya meningkat akibat kebosanan, kekhawatiran dan stress. Menurut hasil survey yang dilakukan Dr. Ihsana, penyebab tidak bahagianya anak-anak saat pandemi antara lain adalah; berkurangnya pertemanan, kesehatan menurun karena stress, penggunaan waktu yang tidak maksimal, serta adanya kekhawatiran tertular Covid-19, khawatir dengan kondisi keuangan keluarga, kehilangan komunikasi dengan teman (padahal di usia anak dan remaja, relasi dengan teman sangat penting bagi perkembangan mereka dan bisa membuat mereka bahagia), serta kehilangan kesempatan untuk bersekolah. Sekolah bukan semata untuk belajar, tetapi lebih untuk bertemu dengan teman-teman dan guru, belajar adalah bonus untuk mereka!

Lalu, bagaimana pandangan anak-anak tentang Covid itu sendiri? Ternyata anak-anak merasa kekhawatirannya tentang Covid tidak didengarkan oleh orangtua dan itu seperti dianggap sepele. Mereka juga mengaku hanya tahu sedikit tentang Covid, karena kurangnya orangtua atau pihak sekolah memberikan informasi yang benar. Gara-gara Covid mereka harus terus berdiam di rumah, tapi tidak bermain dengan keluarga, terkesan menjadi sibuk masing-masing. Mereka tidak bisa keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman. Dan kebanyakan mereka menghabiskan waktu dengan media sosial, main game komputer, melakukan pembelajaran jarak jauh secara daring dan itu semua berbasis internet. Tidak ada aktivitas mereka secara fisik karena semua berbasis online, dan itu ternyata membuat anak-anak sangat tidak bahagia!

Ingat, kepemilikan terhadap barang-barang bagus ternyata bukan ukuran kebahagiaan anak, kebahagiaan anak tidak bisa diukur secara ekonomi. Untuk saat ini, untuk bisa melakukan motion kita harus pandai meng-create motion. Saat kita merasa sedih, jangan mengurung diri di kamar tapi justru kita harus bergerak untuk mengalihkan emosi negatifnya. Gerakan aktivitas fisik akan memunculkan energi positif sehingga menimbulkan efek lebih bersemangat.

Ada sebuah pesan yang disampaikan oleh Dr. Ihsani diakhir webinar, bahwa kita perlu belajar dari anak-anak, karena cara berpikir kita tidak sama dengan cara berpikir anak-anak. Dengar anak-anak kita, karena mereka butuh untuk didengarkan. Samakan definisi dulu dengan mereka tentang banyak hal, kita harus peduli terhadap mereka supaya anak-anak bisa bertumbuh kembang dengan baik secara fisik dan kejiwaan.

Mari kita ciptakan suasana yang kondusif di rumah, karena hanya rumah lingkungan mereka saat ini. Dengarkan mereka, tunjukkan perhatian kita, ciptakan aktivitas fisik yang menarik bersama keluarga, maka mereka akan bahagia.*(erg)

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.