“Sedekah Membuat Bahagia” | Resume Webinar Asih Putera

Keharusan di rumah saja karena pandemi Covid-19, tidak boleh menyurutkan semangat kita dalam hal tholabul ‘ilmi. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada, majelis-majelis ilmu tetap bisa dilaksanakan dan kita ikuti. Belum lama ini, tepatnya tanggal 19 Mei 2020 yang baru lalu, Yayasan Asih Putera kembali menggelar sebuah webinar yang kali ini diperuntukkan untuk seluruh guru dan staf di Yayasan Asih Putera.

Menjadi nara sumber dalam kegiatan ini adalah Bapak Abdullah Syifa Bunana, M.B.A, Direktur Badan Wakaf dan Filatropi Asih Putera, yang membawakan tema “Sedekah Membuat Bahagia”. Tema yang sangat pas, disaat banyak hati yang galau dan penuh dengan kekhawatiran di tengah pandemik yang entah kapan akan berakhir ini.

Hati adalah Panglima

Selama ini kita terlanjur terdoktrin bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat (men sana in corpore sano). Padahal di dalam prinsip Islam, Jika hati sehat maka jasad/seluruh tubuh akan sehat! Sesuai dengan bunyi hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik pula seluruh jasad. Jika ira rusak, maka rusak pula seluruh jasad.”

Karenanya seorang muslim wajib untuk menjaga hatinya agar selalu sehat. Hati adalah ibarat panglima di dalam tubuh kita. Pepatah good food is good mood tidaklah tepat, karena poinnya adalah ketika hati kita sehat maka jasad kita akan sehat.

Cara Menjaga Hati Supaya Sehat

Di tengah kondisi dan situasi yang penuh kekhawatiran seperti sekarang ini, sangat penting bagi kita untuk bisa menjaga hati kita supaya tetap sehat yang akan berdampak pada sehatnya jasad kita. Bagaimana caranya kita menjaga hati kita supaya selalu sehat?

Mata dan telinga adalah jalan masuknya informasi kepada kita. Karenanya kita perlu menjaga sumber informasi yang masuk melalui penglihatan dan pendengaran. Karena apa yang dilihat dan didengar akan mempengaruhi kondisi hati kita. Informasi yang positif akan membuat suasana hati kita positif, begitupun sebaliknya. Jadi perbanyaklah untuk mengonsumsi informasi-informasi yang positif saja. Karena bisa dikatakan, bahwa informasi yang masuk melalui penglihatan dan pendengaran adalah salah satu makanan hati!

Lalu apalagikah makanan hati itu? Selain berdzikir dengan selalu mengingat kepada Allah yang akan membuat hati kita tenang, maka “berbagi” adalah salah satu makanan hati yang akan membuat hati/jiwa kita bahagia.

Mengapa Berbagi Membuat Bahagia?

Mengapa berbagi bisa membuat hati kita bahagia? Karena berbagi itu tanda cinta. Kita memberi sesuatu pada seseorang pasti didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang. Lalu bagaimana supaya hati kita selalu penuh dengan cinta?

Untuk menumbuhkan cinta di hati kita awali dengan banyak bersyukur dan mengakui segala nikmat yang  Allah berikan kepada kita. Allah itu memiliki sifat Ar Rahman dan Ar Rahiim kepada kita semua, sangat penyayang dan pengasih kepada seluruh manusia (QS. Al Baqoroh : 143).  Ketika cinta berlimpah dalam hati kita, maka kita akan bagikan cinta itu kepada orang lain.

Berbagi/sedekah itu akan membuat hati kita bahagia, karena kita memberikan cinta/kasih sayang kepada orang lain.  Berbagi itu dapat memunculkan hornon endorfin/ hormon bahagia yang bisa membuat kecanduan/ketagihan pada seseorang, candu untuk berbagi dan membahagiakan diri sendiri dan orang lain.

Analoginya, jika ada perusahaan yang memberikan gaji di awal bulan sebelum seseorang mulai bekerja, maka tentu akan menumbuhkan sebuah motivasi, untuk bekerja yang terbaik dan ada rasa malu jika tidak bekerja dengan baik karena sudah diberi gaji di awal sebelum kita berkarya. Nah, sesungguhnya Allah itu sudah memberi kita dengan berjuta nikmat sebelum kita melakukan apapun untuk berterimakasih pada-Nya, yaitu dunia dan seisinya, memberi kita udara untuk bisa bernafas. Sesungguhnya Allah itu kepada manusia sangat penyantun dan pengasih.

Kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati. Ketika kita bangun dari tidur kita dalam keadaan sehat, aman  dan masih memiliki makanan untuk hari itu, maka itu seperti kita memiliki dunia. Ketika kita memberi dan berbagi, untuk membuat hati kita bahagia maka jangan pernah diingat-ingat! Nasihat ulama, ketika kita beramal jangan diingat-ingat, lakukan, lupakan!!

Visi YAP : Lebih Besar dan Manfaat

Jika kita melihat banyak badan zakat dan wajaf yang saat ini kondisinya sudah sangat besar dan mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat dalam mengelola dana zakat juga wakaf masyarakat, maka Yayasan Asih Putera melalui Badan Wakaf dan Filatropi Asih Putera memiliki cita-cita yang tinggi, untuk menjadi lebih besar dan  bisa memberi manfaat lebih banyak kepada masyarakat.

Bayangkan jika ZISWAF yang dikelola Asih Putera telah berkembang menjadi besar, maka akan ada 10.000 siswa yang bersekolah gratis di seluruh madrasah Asih Putera, atau ada 10.000 keluarga yang mendapat paket sembako. Alangkah bahagia hati kita semua jika kita bisa mewujudkan cita-cita membesarkan Badan Wakaf dan Filantropi Asih Putera ini.  Penting sekali bagi kita untuk membangun kepercayaan masyarakat agar mereka mau berbagi/bersedekah melalui Badan Wakaf dan Filantropi Asih Putera,   dengan melaksanakan amanah yang dititipkan secara terkelola dengan baik dan transparan. Karenanya, marilah kita biasakan untuk berbagi/bersedekah melalui Badan Wakaf dan Filantropi Asih Putera untuk meraih kebahagiaan hakiki kita.

Jika kita ingin ikhlas dalam bersedekah, cukuplah hanya kita dan Allah saja yang tahu. Bahagia adalah impian setiap orang, karenanya mari kita raih kebahagiaan hakiki kita dengan berbagi/bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Mulailah dari sekarang!(ERG)

5 PILAR PENDIDIK GENERASI AQIL BALIGH | RESUME TABLIGH AKBAR

Tak ada alasan untuk berhenti menuntut ilmu, bahkan dalam situasi pandemi seperti sekarang ini. Ketika semua aktivitas terpaksa dirumahkan untuk memutus penyebaran Covid-19, sepertinya tertutuplah semua peluang langkah kaki menuju majelis ilmu. Namun dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada, Yayasan Asih Putera mencoba menghadirkan sebuah Tabligh Akbar Online, sehingga majelis ilmu tetap bisa kita ikuti walau tetap di rumah saja.

Tabligh Akbar online yang digelar Hari Senin tanggal 11 Mei 2020 kemarin, menghadirkan narasumber seorang psikolog, yang juga praktisi di bidang pendidikan dan senior konsultan SDM di beberapa lembaga. Drs. Adriano Rusfi, Psi atau lebih akrab disapa Ustadz Aad berkenan selama kurang lebih dua setengah jam secara interaktif berbagi ilmu dengan guru-guru dan orangtua murid dari seluruh madrasah Asih Putera.

Ketua Yayasan Asih Putera, Bapak Ir. H. Edi Sudrajat Ahmad dalam kata sambutannya mengatakan bahwa secara prinsip pendidikan Aqil Baligh di madrasah Asih Putera sudah diterapkan melalui kegiatan Taklif. Kegiatan Taklif secara terintegrasi mendewasakan anak pada waktu yang seharusnya, melalui learning by doing. Pendidikan Aqil Baligh menjadi penguat bagi guru dan orangtua terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini di Asih Putera.

Mengawali presentasinya, Ustadz Aad menyampaikan sebuah renungan yang sangat menyentuh sekaligus menyentil kita. Dengan adanya pandemi Covid-19  yang membuat semua aktivitas dihentikan dan dirumahkan, memberi hikmah tersendiri dimana Allah sepertinya ‘memaksa’ kita untuk kembali ke rumah, berkumpul lebih lama dengan anak-anak dan keluarga, melakukan kegiatan bersama-sama di rumah, yang telah terenggut selama ini oleh kesibukan kita bekerja di luar rumah dengan dalih mencari nafkah.

Menjadi sebuah ironi jadinya, ketika kita bekerja di luar mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan keluarga, tapi ternyata kesibukan kita mencari nafkah telah membuat anak-anak dan keluarga menjadi korban. Ada fungsi-fungsi sosial yang terabaikan, waktu efektif untuk kemanusiaan terenggut termasuk pendidikan untuk anak-anak kita sendiri.

Sejak Revolusi Industri pada abad-18 yang menuntut manusia berlomba bekerja untuk mendapatkan materi, telah menyebabkan ketiadaan waktu untuk mendidik anak dan diserahkan perannya kepada sekolah. Padahal sekolah harusnya hanya sebagai pengisi waktu. Sekarang sekolah seperti usaha  laundri, anak diantar pagi dan dijemput sore.  Bukanlah menjadi domain sekolah mengajarkan karakter pada anak, tapi itu adalah domain orangtua di rumah. Akibatnya anak-anak menjadi terlambat mengenal beban syariah, tidak paham cara mengambil keputusan, tidak terbiasa bekerja secara team work dan atau gagal mengambil alih tugas-tugas manusia dewasa.

Yang terjadi sekarang sebagai efek revolusi industri, kita memiliki banyak uang sehingga mampu menyekolah anak-anak di manapun, bisa memanjakan anak-anak kita dengan membelikan banyak mainan dan makanan untuk menebus rasa bersalah kita, sehingga anak over nutrisi. Mereka menjadi sangat cepat tumbuh dewasa secara fisik (baligh) namun terlambat secara aqilnya. Ibaratnya Aqil adalah softwarenya, sedangkan baligh adalah hardwarenya.

Ada 5 pilar pendidikan aqil baligh yang harus dipahami oleh kita semua, agar anak-anak kita dapat tumbuh seiring antara perkembangan fisik dan mentalnya. Kelima pilar tersebut adalah :

1. Rumah

Rumah, dalam hal ini orangtua memiliki peran dalam pendidikan mental dan karakter anak sebesar 70%, jauh lebih besar dibanding peran sekolah. Karena pendidikan mental dan karakter itu bukan dengan cara diajarkan namun ditularkan melalui kebiasaan-kebiasaan di rumah. Dengan work from home dan diam di rumah saja, ini adalah kesempatan bagi orangtua untuk melaksanakan perannya tersebut. Jangan memindahkan sekolah ke rumah dan mengambil peran sebagai  guru pengganti di rumah, karena orangtua tidak memiliki keilmuan khusus secara didaktik, pedagogik, micro teaching ataupun pemahaman terhadap kurikulum formal.

Orangtua di rumah bisa menjadi pendidik anak-anak dengan 3 kekuatan besar, yaitu :

a. Cinta

Kalaupun orangtua dalam mendidik anak terlihat tidak sabar atau galak, anak-anak tidak akan merasa sakit hati karena ada cinta yang mendasarinya.

b.  Ketulusan

Daya tular tertinggi dalam pendidikan anak adalah ketulusan Ayah dan Bunda. Semakin tulus, akan semakin tertular dengan baik secara ruhiyah.

c.   Keteladanan

Kita bukan mengajarkan anak doa sebelum dan sesudah makan, tapi biasakanlah sebelum dan sesudah makan membaca doanya, lakukan secara konsisten maka anak akan meniru dan melakukannya dengan kesadarannya.

Ayah adalah seorang komandan, Ayah adalah seorang dirigen, Ayah adalah seorang nahkoda! Ayah sebagai kepala keluarga memiliki peran yang lebih dominan dari seorang Ibu dalam hal menentukan haluan, menentukan kurikulum dan juga sebagai tempat konsultasi bagi istri saat menghadapi permasalahan dalam mendidik anak-anak. Ibaratnya, seorang Ibu adalah pelaksana harian dari program-program yang sudah dirancang dan direncanakan matang oleh Sang Ayah sebagai komandan.

Kondisi pandemi memaksa semua anak diam di rumah, meninggalkan aktivitas fisiknya secara drastis. Sehingga terjadilah over nutrisi, karena anak –anak banyak makan tapi kurang bergerak. Hal ini memicu perkembangan baligh (fisik) anak secara cepat bahkan berlebihan. Orangtua harus mampu mengendalikan kelebihan nustrisi yang berdampak anak menjadi lebih gemuk dan lamban, dengan cara pembatasan nutrisi dan mengajak anak berolahraga dengan mengeksplorasi permainan-permainan tradisional yang menyenangkan, untuk mengurangi energi yang berlebih.

Jangan lebay dengan penggunaan gadget. Sepertinya Allah sedang menerapi kelebayan kita terhadap gadget, dibuatnya kita seharian bermain gadget selama di rumah saja, sehingga kita akan sampai ke titik jenuh yang sebenar-benarnya jenuh bermain gadget untuk masa yang akan datang. Pada prinsipnya, orangtua harus mampu menekan baligh karena over nutrisi, kedewasaan fisik ditekan sementara kekuatan fisik ditingkatkan. Imunitas tubuh lebih baik dari sterilisasi!

2. Sekolah

Secara umum sekolah  hanya memiliki peran sebesar 30% dalam pendidikan anak. Namun sekolah bisa menjadi asisten orangtua dalam membangun Aqil anak. Sekolah mengajarkan ilmunya, di rumah dilakukan pembiasaannya. Wilayah knowledge (pengetahuan) ada di sekolah. Orangtua mengajar dan membiasakan ngaji Al Qur’an, tapi untuk pengetahuan tajwid, makhrojul huruf ada di wilayah sekolah.  Sekolah bisa mengajakan keterampilan-keterampilan khusus yang tidak bisa dilakukan orangtua karena banyak keterbatasan, misalnya mengajarkan berenang, memanah atau berkuda.

Peran sekolah adalah ibarat kawah Candradimuka, untuk mendidik anak-anak sebagai calon  manusia dewasa, mukallaf, dan manusia aqil baligh. Serahkan anak pada sekolah dengan segala kerendahan hati. Penuhi kewajiban keuangan untuk SPP dan berikan kepercayaan penuh pada sekolah untuk tegas menegakkan disiplin, bahkan jika terpaksa anak harus dihukum demi tegaknya sikap disiplin.

Menurut Ali bin Abi Thalib, ada 3 pola pendekatan dan perlakukan kita terhadap anak di dalam mendidik mereka berdasarkan usianya, yaitu :

a.   Usia 0 – 7 tahun  

Perlakukan mereka seperti raja, penuhi segala kebutuhan dan keinginannya.

b. Usia 7 – 12 tahun                

Perlakukan mereka seperti budak atau tawanan, didik mereka untuk menjadi calon manusia dewasa yang mandiri, terlatih dan sadar dengan perannya. Anak di usia ini sudah harus dididik semi militer agak kuat secara fisik, terutama untuk anak laki-laki.

c.   Usia di atas 12 tahun

Perlakukan mereka sebagai seorang teman, sadari kemampuan mereka untuk diajak bicara atau berdiskusi.  

3. Mesjid

Untuk seorang anak laki-laki, rumah adalah tempat yang buruk untuk pembentukan kedewasaannya. Sebaiknya sejak dini anak terutama laki-laki harus sudah diperkenalkan dengan mesjid dan diajak melakukan banyak aktivitas di mesjid. Mesjid bukan sekedar tempat solat, tetapi anak-anak yang dibesarkan di mesjid akan ditangguhkan karakternya untuk mencari kehidupan. Mesjid adalah tempat mendidik anak laki-laki menjadi seorang dewasa.

Karenanya, di mesjid perlu seorang mentor bukan sekedar marbot yang bertugas membersihkan mesjid. Tapi seseorang yang mampu mendidik anak-anak pada kedewasaan, untuk berlatih keterampilan pidato, latihan fisik dan juga  memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan mesjid atau tugas-tugas lain yang biasa dilakukan seorang marbot.

Seharuskan kita bisa menghidupkan kembali fungsi mesjid sebagai fungsi central Islam dalam pendidikan aqil baligh pada anak.

4.   Dunia Industri atau Korporasi/Perusahaan

Sejak terjadinya Revolusi Industri, tidak lagi ada waktu efektif di rumah untuk anak-anak dan keluarga karena kelelahan bekerja. Industri menjadi biang keladi hancurnya tatanan keluarga. Fokus pada pekerjaan menyebabkan kurangnya waktu orangtua untuk mendidik anak, menjadi sebab munculnya remaja yang bermasalah. Hal ini tentu saja akan berefek pada pada konsentrasi kerja yang buntutnya akan merugikan perusahaan, karena karyawannya tidak optimal dalam bekerja. Karena efektivitas dan produktivitas karyawan sangat bergantung pada kondisi kejiwaan mereka, perlakukan mereka dari sisi kemanusiaannya, beri waktu untuk mereka bagi keluarga dan melakukan peran pendidikan bagi anak-anaknya.

Karenanya, sudah saatnya korporasi/perusahaan dibangun kesadarannya sebagai pilar ke-4 pendidikan aqil baligh, agar ikut bertanggungjawab terhadap masa depan anak-anak. Perusahaan tidak hanya berpikir tentang CSR (Corporate Social Resonsibility), tetapi juga harus memikirkan CFR (Corporate Family Responsibility) yaitu ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak karyawannya. 

 Kontribusi korporasi dalam pendidikan aqil baligh antara lain adalah :

a.   Sediakan sesi-sesi parenting pada jam-jam kerja, sebagai bagian dari job description yang harus diikuti oleh seluruh karyawan.

b.  Sebagian pekerjaan dilakukan di rumah (WFH) yang bisa melibatkan anak-anak, bukan hanya pada masa pandemi seperti sekarang. Anak-anak akan melihat orangtuanya bekerja sebagai sarana pelatihan. Acara Family Gathering bukan hanya sekedar piknik, tapi bisa sesekali membawa anak-anak ke kantor.

c.   Kurangi waktu kerja dari 8 jam menjadi 6 jam perhari, sisa 2 jam biarkan bekerja di rumah (WFH), agar karyawan memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.

d.  Tabungan Karir, buat sebuah sistem pada perusahaan untuk memberikan semacam poin yang dikumpulkan dari awal bekerja, dan saat karyawan berusia 40 tahun poin tersebut bisa digunakan untuk mengejar karir. Mendidik anak-anak adalah poin terbesar yang akan didapat karyawan. Di dalam Islam, puncak keseimbangan manusia ada di usia 40 tahun, sebagaimana para nabi banyak yang diangkat menjadi nabi di usia 40 tahun.

5.   Negara

Negara memiliki peran penting dalam menciptakan perangkat-perangkat sosial, hukum dan aturan untuk mendidik generasi aqil baligh, karena negara memiliki kekuasaan untuk membuat hukum dan undang-undang.

Harus ditinjau ulang tentang makna undang-undang perlindungan anak yang ada sekarang, UU yang ada sekarang terlalu protektif pada anak, sehingga anak seperti dimasukkan ke dalam sebuah aquarium kaca, terlalu dimanjakan, tidak mandiri dan lemah dalam banyak hal. Harusnya perlindungan yang diberikan berbentuk back up, motivasi dan support.

Harus dipahami, bahwa hak anak tidak selalu identik dengan mendapatkan makanan, pakaian, kasih sayang dan pendidikan, tetapi juga hak untuk menjadi manusia dewasa yang mandiri, tangguh, berdaya juang, pantang menyerah dan percaya diri.

Pada UU Pendidikan dan Pengajaran tahun 1950 tertulis bahwa Putra-putri usia 15 tahun harus dididik untuk mampu menjalankan tugas-tugas manusia dewasa. Maka kemudia di masa itu, setelah lulus SD anak-anak diberikan sekolah yang bersifat kejuruan dan keterampilan seperti SKKP (Sekolah Kecakapan Keluarga Pertama/SMP) dan SKKA (Sekolah Kecakapan Keluarga Atas/SMA juga STM (Sekolah Teknik Menengah).

Kewajiban negara adalah membuat kerangka kurikulum, dan setiap satuan pendidikan bertugas untuk membuat dan mengembangkan kurikulumnya sendiri berdasarkan situasi dan kondisi sekolahnya (KTSP = Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Stop kriminalisasi guru karena dianggap melakukan kekerasan pada murid, jika itu adalah bagian dari proses mendidik. Orangtua harus memberi kepercayaan penuh pada guru untuk mendidik putra-putrinya, berikan dukungan dan tunaikan kewajiban dengan baik untuk memenuhi hak-hak guru.

Pendidikan Aqil pada anak adalah tanggung jawab utama seorang Ayah. Tokoh pendidik utama yang disebutkan di dalam Alqur’an adalah seorang Ayah. Karena peran Ayah adalah sebagai nahkoda, kompas, haluan dan penentu arah. Ayah yang menjadi arranger untuk menciptakan sebuah lagu yang indah sementara yang mengajarkan tangga nadanya. Ayah sebagai pujangga membuat sebuah kalimat, alinea, paragraf atau puisi, Ibu yang mengajarkan hurup demi hurufnya.

Akhlak diajarkan oleh Ibu dengan cara khas seorang Ibu yang cerewet tapi juga persuasif. Sedangkan

Akidah diajarkan Ayah kepada anak-anak dengan cara indoktrinatif, frontal, sekaligus Ayah sebagai konsultan bagi Ibu jika ada masalah dalam penanaman akhlak pada anak-anak. Tegakkan wibawa sebagai seorang pendidik, karena anak hanya akan patuh pada orang yang mendidiknya. Ayah adalah penanggungjawab pelaksanaan pendidikan, sedangkan Ibu sebagai pelaksana hariannya. Karena di akhirat, yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang anak-anaknya adalah seorang Ayah! * (ERG)

SATGAS COVID-19 ASIH PUTERA

Ketika Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, tepatnya ketika Pemerintah pertama kali mengumumkan adanya warga Depok yang positif terinfeksi Covid-19 pada bulan Februari lalu, Ketua Yayasan Asih Putera langsung bertindak cepat untuk melakukan sebuah tindakan antisipatif.

Ketua Yayasan Asih Putera, Bapak Ir.H. Edi Sudrajat Ahmad menginstruksikan agar dibentuk Satuan Tugas Covid-19 Asih Putera (SATGAS COVID-19 AP) yang bertanggung jawab untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan juga edukasi di seluruh lingkungan sekolah yang ada di bawah yayasan Asih Putera, mulai dari DC, TK, MI, MTs, MA dan juga Pesantren Asih Putera.

Satgas Covid-19 AP ini dipimpin oleh Drg. Wawan Kustiawan dan Dr. Dewi Nurleni yang keduanya merupakan dokter di Klinik Asih Putera. Anggota Satgas Covid-19 AP terdiri dari seluruh unsur yang diambil dari perwakilan tiap madrasah. Tindakan pertama yang dilakukan oleh Tim Satgas adalah memberikan edukasi kepada seluruh guru dan karyawan di lingkungan Asih Putera. Supaya mereka memiliki pengetahuan dan pemahanan tentang apa itu Covid-19, bagaimana mengindarinya dan sikap apa yang harus dilakukan ketika kita atau keluarga kita terinfeksi virus tersebut. Pengetahuan-pengetahuan praktis tentang menjaga kebersihan diri dan lingkungan langsung dipraktekkan.

Satgas Covid-19 AP memiliki tenaga lapangan yang luar biasa bekerja keras untuk melakukan yang terbaik. Dari mulai hunting hand sanitizer, mencari bahan untuk membuat sendiri disinfektan dan pendistribusian ke seluruh madrasah hingga melakukan penyemprotan terhadap semua lokal kelas dan ruangan di seluruh Madrasah Asih Putera. Penyemprotan disinfektan yang dilakukan oleh para Satgas Covid-19 AP ini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Cimahi dan aparat desa setempat.

Selain itu, tugas dari Satgas Covid-19 AP ini adalah terus memantau kondisi kesehatan siswa dan guru melalui manajemen masing-masing madrasah, sehingga bisa termonitor dan bisa dilakukan penanganan sesegera mungkin jika menunjukkan gejala sakit yang ditengarai mengarah kepada infeksi Covid-19.

Satgas juga melakukan pengaturan ketat terhadap mobilitas guru dan staf ke sekolah di dalam masa Work From Home (WFH) dan School From Home (SWF), mengatur piket petugas kebersihan dan keamanan di masing-masing madrasah untuk tetap menjaga kebersihan dan keamanan di semua lingkungan Asih Putera.

Selamat bekerja Satgas Covid-19 AP, semoga tetap sehat dan selalu semangat!!(ERG)*