Pembelajaran Bermakna Ditengah Wabah Covid-19

Cahyo Priyanto Jun 17, 2020

A. Pendahuluan

Corona Virus Desease 2019 atau yang biasa disingkat Covid-19 adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Tiongkok di bulan Desember akhir tahun 2019 kemudian mulai menyebar ke berbagai negara, dan tidak terkecuali Indonesia. WHO sendiri menetapkan Covid-19 sebagai wabah pandemi pada tanggal 11 maret 2020 (WHO, 2020).

Kecepatan penyebaran wabah Covid-19 ini menjadikan banyaknya korban diberbagai negara. Di indonesia sendiri jumlah korban Covid-19 semakin bertambah, pertanggal 19 april 2020 terkonfirmasi 6.248 kasus positif dengan 535 kasus meninggal dan 631 kasus sembuh (BNPB, 2020).  Kejadian luar biasa ini telah berdampak sangat besar pada berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, dan pariwisata. Hal ini salah satunya karena adanya kebijakan untuk melakukan social distancing atau pembatasan sosial yang mengharuskan setiap orang menjaga jarak saat berinteraksi dengan siapapun yang bertujuan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Kecepatan penyebaran wabah Covid-19 ini menjadikan banyaknya korban diberbagai negara. Di indonesia sendiri jumlah korban Covid-19 semakin bertambah, pertanggal 19 april 2020 terkonfirmasi 6.248 kasus positif dengan 535 kasus meninggal dan 631 kasus sembuh (BNPB, 2020).  Kejadian luar biasa ini telah berdampak sangat besar pada berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, dan pariwisata. Hal ini salah satunya karena adanya kebijakan untuk melakukan social distancing atau pembatasan sosial yang mengharuskan setiap orang menjaga jarak saat berinteraksi dengan siapapun yang bertujuan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Dalam dunia pendidikan, adanya social distancing ini mengakibatkan para pengelola dunia pendidikan mengeluarkan keputusan untuk meniadakan aktivitas di sekolah atau di kampus-kampus dan melakukan pembelajaran jarak jauh dari rumah, baik itu secara daring atau bagi yang mempunyai keterbatasan akses internet (baik karena faktor ekonomi maupun geografis) dapat melakukan pembelajaran melalui media televisi TVRI seperti yang dianjurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Prodjo, 2020).  Perubahan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang biasa dilakukan di sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh dari rumah, tentunya sedikit banyak berpengaruh terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Bagi orang tua, proses ini menjadikan mereka terlibat langsung dalam teknis pembelajaran anak-anaknya. Bagi guru, kondisi tersebut memaksa mereka untuk mengupgrade diri secara cepat beradaptasi menguasai berbagai media sebagai sarana proses pembelajaran jarak jauh. Dan bagi sekolah, kondisi ini mengharuskan adanya perubahan manajemen sekolah baik itu pengaturan SDM (tenaga pendidik dan tenaga kependidikan) serta adanya perubahan paradigma belajar itu sendiri yang siap atau tidak, proses belajar melalui daring yang dapat dilakukan tanpa dibatasi ruang dan waktu akan berpengaruh terhadap sekolah yang sebelumnya banyak melakukan pembelajaran secara konvensional (Agus Nana Nuryana, 2020).

B. Pembelajaran Bermakna (Meaningfull Learning)

Dunia pendidikan saat ini tengah mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, proses pendidikan yang biasanya berpusat disebuah gedung bernama sekolah, dengan adanya sosial distancing akibat Covid-19 ini akhirnya proses belajar berpindah menjadi di dalam rumah-rumah siswa berbasis koneksi internet atau saluran televisi (TVRI). Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat langka ditengah wabah covid-19, proses pembelajaran siswa setidaknya akan didampingi sepenuhnya oleh orangtua yang mungkin sebagian besar juga sedang melaksanakan work from home. Disini suatu momentum muncul kepermukaan, karena orangtua akan bertemu dengan kewajiban dasarnya kembali sebagai pendidik utama sekaligus penanggung jawab proses pendidikan dari anak-anaknya. Sebelumnya, untuk sebagian orangtua yang disibukan dengan berbagai urusan pekerjaan, banyak yang memberikan kewenangan kepada sekolah seutuhnya sebagai tumpuan proses pendidikan bagi anak-anaknya. Kondisi akibat covid-19 ini memberikan kesempatan kepada orangtua untuk membangun kedekatan serta terlibat langsung dalam pembelajaran anak-anaknya di rumah.  Orangtua dapat menjadi mentor sekaligus model belajar ketika mendampingi anak-anaknya. Sebagai mentor, orangtua dapat memandu, mengarahkan dan menentukan goal setting masa depan sang anak. Memperhatikan model gaya belajar anaknya, mengamati apa yang anaknya suka atau tidak, dan memperhatikan apa yang membuat dia tertarik serta mempelajarinya lebih lama. Membangun rasa tanggung jawab, mengasah rasa empati, memancing kreativitas dengan menghadirkan berbagai project kegiatan dengan menghubungkan apa yang telah anak-anak pelajari di sekolah dengan sebuah pengalaman baru di rumah. Bagi orangtua ini adalah kesempatan untuk melihat apa yang menjadi potensi dari sang anak.  Sebagai model, orangtua selama dirumah dapat memberikan keteladanan dalam berbagai hal sehingga anak belajar secara tidak langsung tentang adab dari orangtuanya tersebut. Proses membangun karakter anak pun akan berjalan lebih efektif karena orangtua bertindak sebagai role model bagi anaknya secara langsung.

Dengan kegiatan-kegiatan seperti yang disebutkan di atas setidaknya dapat memunculkan suatu ide paradigma baru dalam proses pendidikan yang dapat dilakukan, seperti (Santosa, 2015) :

1. Dari Kurikulum Umum Yang Padat Kepada Kurikulum Berbasis Potensi.

Dengan belajar di rumah tentunya proses belajar tidak sepadat seperti yang dilaksanakan di sekolah, oleh karena itu proses belajar di rumah seharusnya dilakukan secara selektif dengan melihat apa yang menjadi kekuatan anak maka itu menjadi alternatif kegiatan untuk memunculkan potensi anak sesungguhnya. “Ku tau yang ku mau” mungkin seperti itulah ungkapan yang keluar ketika anak sudah menemukan potensi yang dapat menjadi passion hidupnya. Matanya berbinar memancarkan semangat, keasyikannya dalam belajar berhasil melupakan waktu yang menemaninya.

2. Merdeka Belajar

Setiap anak bebas memilih objek belajar yang menjadi minatnya dan relevan dengan dirinya kemudian menjadikannya sebagai project-project pribadi yang menantang. Mereka akan mentautkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan di sekolah kemudian menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman baru di rumah.

3. Pendidikan Berpusat Pada Anak

Anak-anak ditantang untuk membuat project pribadi yang unik, kreatif dan sangat personal. Project-project tersebut akan sangat berbeda dari setiap anak tergantung minat dan potensinya. Ada yang mengambil project science, project art, project memasak, project animasi, cerpen, designer, fotografi, dan lain sebagainya.

4. Dari Nilai Akademis Kepada Karya

Karya adalah bukti otentik seseorang telah menguasai sesuatu sesuai konsep pengetahuan yang dimilikinya. Karya menjadi portofolio yang tidak terbantahkan akan kemampuan yang dimiliki.

5. Dari Sekolah Kepada Rumah

Memindahkan proses belajar dari sekolah kerumah dampak dari wabah covid19 setidaknya memberikan peluang kepada orangtua untuk kembali menjadi penanggung jawab pendidikan anak-anaknya seutuhnya. Dengan proses belajar seperti ini, anak-anak akan mendapatkan proses pembelajaran yang jauh bermakna. Pengalaman-pengalaman baru yang diperoleh akan terhubung dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur koginitif sebelumnya (Ariesta, 2018).

C. Penutup

Salah satu sifat ideal dari kurikulum pendidikan adalah “dinamis” atau “lentur” yang senantiasa bisa mudah disesuaikan dengan kondisi kebutuhan faktual masyarakat dan kondisi siswanya (Husaini, 2020). Dengan kondisi wabah covid-19 ini yang mengharuskan siswa belajar dari rumah menjadikan orangtua dapat lebih dekat untuk mendampingi anak dan mengoptimalkannya untuk mendapatkan hasil pembelajaran bermakna yang optimal. Dengan menguatkan makna dari pembelajaran yang dilakukan setidaknya ada tiga manfaat yang dapat diperoleh :

1). Informasi yang dipelajari secara bermakna akan lebih lama dapat diingat, karena anak-anak mendapatkan pengalaman yang amat berharga tentang apa yang mereka minati sesuai dengan potensinya.

2). Informasiinformasi baru yang dibangun siswa akan memudahkan proses belajar selanjutnya.

3). Informasi yang terlupakan sesudah terbangun struktur pengetahuan baru akan mempermudah proses belajar hal-hal yang mirip walupun telah terlupakan (Ariesta, 2018). **


Cahyo-1

Penulis : Cahyo Priyanto - Manajer Peminatan dan Magang Yayasan Asih Putera. - Dosen Politeknik Pos Bandung

#Untuk selengkapnya, silahkan buka di kitamenulis.id

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.