Yayasan Asih Putera Hotline : 0226612217
Image

Dibiasakan Karena Perlu

Oleh: Edi S. Ahmad

Proses pembiasaan (habituasi) adalah bagian dari proses pendidikan untuk tujuan membiasakan hal-hal baik agar menjadi terbiasa (permanen), atau sebaliknya, menghilangkan kebiasaan buruk agar tidak terus berlanjut. Pembiasaan menekankan pada sisi pengalaman atau mengalami. Diharapkan dari proses mengalami dalam periode waktu tertentu, seseorang dapat berubah perilaku atau kebiasaannya, atau mengubah pola pikir dan cara pandangnya.

Dalam banyak hal kita perlu memiliki sebuah kebiasaan (baru) jika kebiasaan itu nyata-nyata baik, atau apalagi jika dihukumi wajib. Contoh sederhananya adalah tilawah atau membaca Alqur’an. Umum diketahui bahwa kewajiban membaca Alqur’an adalah setara dengan kewajiban sholat atau kewajiban lainnya di dalam keyakinan Islam. Namun di dalam praktiknya, secara statistik hanya sepertiga muslim di Indonesia yang dapat membaca Alqur’an. Dari sepertiga itupun belum tentu membaca Alqur’an secara rutin setiap hari.

 

Dalam banyak hal, kita juga perlu menghentikan kebiasaan (lama) jika kebiasaan itu nyata-nyata buruk bagi kita. Bagi kesehatan fisik, jiwa, sosial, atau alam lingkungan. Contohnya adalah mengonsumsi gula atau karbohidrat dalam jumlah yang berlebihan, termasuk mengonsumsi makanan populer semacam “gorengan”, karena alasan kebiasaan. Atau tanpa kita sadari lebih jauh bahwa membuang sampah tanpa proses pemilahan sampah di rumah tangga menjadikan produksi sampah tiga atau empat kali lebih banyak dibandingkan jika sampah tersebut dipilah menjadi sampah organik, sampah anorganik kering, dan sampah anorganik basah (residu). Hanya sampah residulah yang seharusnya masuk ke tempat pembuangan sampah, selebihnya dimanfaatkan untuk hal-hal berguna. 


Proses pembiasaan akan terkendala jika dalam prosesnya tidak ditumbuhkan proses “kesadaran”. Tidak sedikit kita menemukan fakta dimana anak-anak yang terbiasa sholat di sekolah, namun tidak melanjutkan kebiasaan itu di rumah atau ketika berada di komunitas sebayanya. Itu karena pada dirinya belum tumbuh kesadaran itu.

Kesadaran tumbuh dari pemahaman. Pemahaman dibangun dari pengetahuan. Pengetahuan yang baik disusun dalam satu konstruksi pengetahuan yang secara sadar dibangun melalui proses bongkar pasang pengetahuan yang ada dalam dirinya. Jadilah sebuah proses penyusunan pengetahuan diri yang dilakukan secara aktif.

 

Pada anak-anak, proses kesadaran itu dapat ditumbuhkan sedikit demi sedikit untuk memperkuat pengalaman pembiasaan mereka. Kombinasi antara pengalaman yang diperoleh dari pembiasaan yang konsisten ditambah dengan kesadaran baru yang tumbuh secara perlahan, diharapkan akan menjadi perbuatan atau perilaku yang permanen dan konsisten. Tidak hanya konsisten tetapi juga disertai komitmen yang tinggi.

Kita orang dewasa, barangkali perlu belajar tentang kebiasaan (baru) itu dari perjalanan Nabi Khidir ‘alayhis-salam bersama Nabi Musa ‘alayhis-salam. Dalam “ketidaktahuan” Nabi Musa berjalan bersama untuk belajar kepada Nabi Khidir. Nabi Musa dilarang bertanya hingga saatnya Nabi Khidir menjelaskan. Dalam ketidaktahuan itu Nabi Musa mengajukan protes keberatan ketika peristiwa demi peristiwa berjalan di depan matanya. Sampai pada titik tertentu Nabi Khidir menjelaskan tentang perilaku dan tindakannya berlandaskan pada pengetahuan dan visinya tentang masa depan. Kisah lengkapnya dapat kita baca di QS Al Kahfi ayat 60-82.

 

Kemampuan melihat jauh ke  masa depan itulah kiranya yang akan membimbing kita untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Membiasakan sesuatu atau membuang suatu kebiasaan. Jika kesehatan adalah penting bagi masa depan, maka pengetahuan tentang kesehatan itulah seharusnya yang membimbing perilaku kita.

Adapun perilaku yang konsisten adalah buah dari proses pembiasaan. Dari proses pembiasaan itu boleh jadi kita dihadapkan pada situasi penuh tantangan, berat ataupun ringan. Hanya karena tekad kuat yang berangkat dari pemahaman yang utuhlah, semua tantangan itu pada akhirnya dapat diatasi.

Jika anak-anak belajar bersama pengalaman menuju kesadaran. Itulah proses pembiasaan. Kita orang dewasa barangkali perlu belajar dari kesadaran yang dikuatkan dengan pengalaman. Kata kuncinya: dibiasakan. Wallohu a’lam bish-showab.*

KBB, 22 Agustus 2022

Edi S. Ahmad (Ketua Yayasan Asih Putera)